Jumat, 17 Juni 2011

Benarkah Shalat Jum'at Pengganti Shalat Zhuhur ?

Oleh Al-Lajnah Ad-Da'imah Lil Ifta'

Pertanyaan

Al-Lajnah Ad-Da'imah Lil Ifta' ditanya : Jika seorang wanita telah melaksanakan shalat Jum'at, apakah ia tidak berkewajiban lagi untuk melaksanakan shalat Zhuhur .?

Jawaban

Jika seorang wanita melaksanakan shalat Jum'at bersama imam Jum'at, maka telah cukup shalat Jum'at itu untuk menggantikan pelaksanaan shalat Zhuhur, dan tidak boleh baginya untuk melaksanakan shalat Zhuhur pada hari itu.
Adapun jika melaksanakannya seorang diri, maka tidak boleh baginya untuk melaksanakan shalat kecuali shalat Zhuhur dan tidak boleh baginya melaksanakan shalat Jum'at.

[Fatawa Al-Lajnah Ad-Da'imah Lil Ifta VII/212, fatwa nomor 4147]

HUKUM SHALAT JUM'AT BAGI WANITA

Oleh Al-Lajnah Ad-Da'imah Lil Ifta'


Pertanyaan
Al-Lajnah Ad-Da'imah Lil Ifta diatanya : Apa hukumnya pelaksanaan shalat Jum'at bagi wanita, apakah shalat itu dilakukan sebelum atau sesudah kaum pria atau bersama-sama mereka .?

Jawaban
Shalat Jum'at tidak diwajibkan bagi kaum wanita, akan tetapi jika seorang wanita melaksanakan shalat Jum'at bersama imam shalat Jum'at maka shalatnya sah, tapi jika ia melaksanakan shalat seorang diri di rumah maka ia harus melaksanakan shalat Zhuhur sampai empat rakaat, shalat Zhuhur itu dilaksanakan setelah masuknya waktu shalat atau setelah matahari condong ke barat, dan tidak boleh bagi seorang wanita untuk melaksanakan shalat Jum'at seorang diri.

[Fatawa Al-Lajnah Ad-Da'imah Lil Ifta VII/212, fatwa nomor 4148]





Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami'ah Lil Mar'atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq hal 149-150, penerjemah Amir Hamzah Fakhrudin

Manfaat Semangka

Semangka dipercaya berasal dari gurun Kalahari, Afrika. Menurut para peneliti, buah ini pertama kali dipanen 5000 tahun yang lalu di Mesir dan menurut kepercayaan nenek moyang saat itu, buah ini terpakai untuk penguburan raja-raja agar roh mereka mendapat nutrisi di alam baka. Dan dari sanalah semangka dibawa keliling ke negara-negara di dunia.

Hari ini, kita tahu bahwa yang sudah dikubur jelas tidak bisa lagi menikmati nutrisi semangka. Kitalah yang berhak menikmati lezatnya dan betapa bergizinya buah yang satu potongnya sama fungsinya dengan segelas air tersebut. Tapi ingat, ketika mengkonsumsi semangka, bagian hijau dekat kulitnya ialah bagian terpenting yang harus ikut anda makan selain warna merah/kuningnya saja.

Apa saja fungsi semangka?

Ketika Dengki Menyulut Dendam

"Kedengkian memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar," (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).

Suatu ketika Rasulullah saw dan para sahabatnya duduk di masjid menunggu datangnya shalat Ashar. Tiba-tiba, beliau bersabda, "Tak lama lagi akan datang calon penghuni surga." Mendengar sabda Rasulullah saw tersebut, Anas bin Malik penasaran dan ingin mengetahui siapa gerangan yang dimaksud. Tak lama kemudian masuklah seorang pria berpenampilan sederhana. Dari janggutnya masih menetes bekas air wudhu. Sesampai di Masjid ia shalat dua rakaat. Ketika waktu Ashar tiba, pria itu pun ikut shalat berjamaah.

Keesokkan harinya, di waktu yang sama, Rasulullah saw mengulangi kembali sabdanya, "Segera akan datang seorang pria calon penghuni surga." Ternyata, sosok yang dimaksud adalah pria itu lagi. Rasulullah saw bersabda kembali hingga tiga hari berturut-turut. Dan, yang dimaksudnya pria itu juga.

Peristiwa itu tak hanya membuat penasaran sahabat Anas bin Malik, tapi juga menarik perhatian seorang pemuda bernama Abdullah bin Umar. Ia pun tertarik untuk mengetahui rahasia dan keistimewaan yang dimiliki laki-laki itu. Selepas Isya', Abdullah bin Umar sengaja membuntuti sampai ke rumahnya. Aksi Abdullah bin Umar itu pun diketahui. "Aku lihat sejak dari masjid engkau mengikutiku. Apa maksudmu?" tanya laki-laki itu.

Abdullah mengutarakan keinginannya untuk menginap di rumah laki-laki itu. Kesederhanaan tempat tinggal, dan jamuan makan tak mengundang rasa penasaran Abdullah. Ia sengaja tak tidur semalam karena ingin menyaksikan pria itu bangun tengah malam dan melaksanakan qiyamul lail. Usai shalat tahajjud ia tidur kembali dan bangun menjelang Subuh. Kemudian, bersama Abdullah bin Umar, ia berangkat bekerja sebagai tukang batu. Sorenya pria itu ke masjid dan malamnya pulang ke rumahnya. Abdullah bin Umar mengikuti laki-laki itu hingga tiga hari lamanya. Tak ada yang aneh.

Pada malam terakhir menginap, Abdullah bin Umar berkata, "Aku sengaja menginap di rumahmu karena mendengar Rasulullah saw mengatakan, Anda calon penghuni surga. Aku ingin tahu apa keistimewaan Anda sehingga mendapat jaminan itu?"

Mulanya laki-laki itu menjawab biasa saja. Ia pun tidak tahu. "Aku tak melakukan ibadah apa pun lebih dari kebiasaanku," katanya. Selanjutnya ia berkata, "Aku hanya istiqamah melaksanakan kewajibanku tepat pada waktunya. Aku tak menyakiti seseorang manusia pun. Aku tak pernah dengki terhadap sesuatu nikmat yang Allah berikan pada orang lain."

Mendengar jawaban lelaki itu, Abdullah berkata, "Inilah yang telah mengangkat derajat Anda menjadi penghuni surga sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw."

Ya, kasih sayang Allah meliputi semua makhluk-Nya, baik ketika hidup di dunia maupun di akhirat. Allah menyiapkan surga, tak hanya bagi orang-orang tertentu yang mempunyai kedudukan istimewa. Orang biasa yang melakukan amalan biasa-biasa juga bisa menikmati surga. Seperti kisah yang diriwayatkan Imam Ahmad di atas. Kebersahajaan ibadah, disempurnakan dengan akhlakul karimah.

Di akhirat kelak, amalan yang timbangannya amat berat adalah akhlak, sebagaimana sabda Rasulullah, "Tak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (pada hari kiamat) dari akhlak yang baik," (HR. Abu Dawud). Akhlak inilah yang pada hari akhirat banyak membantu kaum Muslimin memperoleh surga. Sebaliknya karena akhlak pula banyak orang yang ketika di dunia sangat aktif beribadah justru tergelincir mencicipi neraka. Mereka inilah yang disebut-sebut dalam hadits Rasulullah saw sebagai orang yang bangkrut. Nabi saw lalu berkata, "Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku ialah yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan puasa, shalat dan zakat, tetapi dia pernah mencaci maki orang ini dan menuduh orang itu berbuat zina. Dia pernah memakan harta orang itu lalu dia menanti orang ini menuntut dan mengambil pahalanya (sebagai tebusan) dan orang itu mengambil pula pahalanya. Bila pahalanya habis sebelum selesai tuntutan yang mengganti tebusan atas dosa-dosanya, maka dosa orang-orang yang menuntut itu diletakkan di atas bahunya lalu dia dihempaskan ke api neraka," (HR Muslim).

Banyak kita dapati orang-orang yang apabila diperhitungkan amalan ibadahnya sungguh sangat mengagumkan. Namun, sayang mereka masih sering mengabaikan akhlak. Hubungan dan interaksi sosialnya sangat buruk. Ia masih memendam rasa iri, hasut dan dengki. Kadang-kadang tak bisa melepaskan dari dari ghibah, fitnah, bahkan namimah (mengadu domba).

Padahal, Rasulullah saw menegaskan, "Orang yang paling dekat denganku kedudukannya pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya," (HR. ar-Ridha).

Berkaitan hal ini, ath-Thabari meriwayatkan, Ummu Salamah, istri Rasulullah saw pernah bertanya kepada beliau perihal istri yang pernah beberapa kali menikah karena suaminya meninggal. "Ya Rasulullah, seorang perempuan dari kami ada yang nikah dua, tiga, dan empat kali (karena suaminya meninggal), lalu dia wafat dan masuk surga bersama suami-suaminya juga. Siapakah yang akan menjadi suaminya kelak di surga?"

Nabi saw menjawab, "Dia disuruh memilih. Yang dipilih adalah yang paling baik akhlaknya dan berkata, 'Ya Rabbku, orang ini ketika di dunia paling baik akhlaknya kepadaku, maka kawinkanlah aku dengannya." Masih dalam riwayat yang sama, Rasulullah kembali menegaskan, "Wahai Ummu Salamah, akhlak yang baik membawa kebaikan untuk kehidupan di dunia dan akhirat."

Jika dilihat kisah Abdullah bin Umar dalam hadits di atas, ada akhlak yang bisa mengangkat seseorang sampai pada posisi puncak sebagai penghuni surga walaupun ibadahnya biasa-biasa saja. Yaitu, merasa cukup dan tidak dengki pada orang lain. Sebaliknya, jika diabaikan sifat ini justru sangat berbahaya. Rasulullah saw menegaskan, "Waspadalah terhadap hasud (iri dan dengki), sesungguhnya hasud mengikis pahala-pahala sebagaimana api memakan kayu bakar," (HR. Abu Daud).

Sifat dengki adalah keinginan seseorang agar nikmat yang ada pada orang lain hilang. Sifat ini biasanya selalu ada pada setiap pembenci, sombong dan kikir. Bila orang lain mendapatkan kebaikan, niscaya ia bersedih hati dan bila orang lain mendapatkan bencana ia justru bergembira. Umar bin al-Khaththab pernah berkata, "Cukup sebagai bukti si pendengki terhadapmu manakala ia merasa gundah di saat kamu bahagia." Abu al-Laits as-Samarqandi, seorang ulama berkata, "Lima perkara akan sampai pada si pendengki sebelum kedengkiannya sampai pada orang yang didengkinya. Pertama, kegundahan yang tiada henti. Kedua, mendapat musibah yang tak berbuah pahala. Ketiga, celaan yang tak berujung pujian. Keempat, kemurkaan Rabb. Kelima, tertutupnya pintu taufik baginya."

Menjaga kebersihan hati akan membuat kita senantiasa waspada dari sifat dengki. Karenanya, hakikat dengki menjadi penting untuk diketahui. Hasad adalah penyakit lama yang selalu menyebabkan orang lain tersakiti dan terzalimi. Sang pendengki biasanya selalu meradang terhadap orang yang tak berdosa.

Dunia tak berhak dihuni para pendengki. Orang yang dengki ibarat api yang akan melalap bagiannya sendiri jika tak ada lagi yang bisa dilalapnya. Kisah Habil dan Qabil, serta Nabi Yusuf dan saudara-saudaranya menjadi pelajaran bagi kita. Ketika kedengkian itu mencapai puncaknya, ia akan melahap apa saja yang ada di sekitarnya. "Kedengkian memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar," (HR. Abu Daud dari Abu Hurairah dan Ibnu Majah dari Anas).

Dengki adalah persoalan hati. Dari dengki lahirlah buruk sangka. Buruk sangka akan melahirkan fitnah, tuduhan dan dendam. Dendam akan melahirkan perpecahan dan permusuhan. Inilah yang akan mencerai-beraikan umat Islam. "Penyakit umat sebelum kamu telah menular kepada kamu. Yaitu hasad dengki dan permusuhan. Permusuhan tersebut ialah pengikis dan atau pencukur. Saya tidak maksudkannya ia mencukur rambut, tetapi (yang saya maksudkan) ialah mengikis agama," (HR. Baihaqi).

Hepi Andi 


Kamis, 16 Juni 2011

Solusi Penyakit Maag Tanpa Mengobati



Kebanyakan orang sudah kenal dengan penyakit maag. Sehingga terkadang juga bisa mengantisipasinya bila terserang gejala penyakit ini. Dalam istilah kedokteran, penyakit maag disebut gastritis atau peradangan lambung. Untuk gejala yang lebih ringan sering disebut dengan dyspepsia.

Daerah Lambung yang Terkena

Kiat Mengenal Calon Tanpa Pacaran


Untuk mengenal calon tanpa pacaran dapat kita ketahui melalui cara-cara yang efektif, yaitu :

  1. Bertanyalah kepada orang yang dianggap paling dekat dengan calon tersebut yang dapat dipercaya sehingga Insya Allah informasi yang kita dapatkan cukup objektif. Dari sinilah kita dapat mengenali sifat-sifat yang tidak nampak dalam tampil sekejap dan sifat-sifat ini penting bagi yang ingin membangun rumah tangga bersama. Dalam sebuah syair diungkapkan "Jika kamu ingin bertanya tentang seseorang tanyalah kepada orang terpercaya yang paling dekat dengan orang tersebut (sahabat), karena orang yang saling bersahabat itu saling mempengaruhi". Namun untuk mengetahui penampilan/fisiknya tentu dengan melihat dan cara melihatnya tanpa sepengatahuannya."

Rabu, 15 Juni 2011

Tauhid

Tauhid Rububiyah:

Yaitu mengesakan Allah (Rabb) dalam perbuatan-perbuatan-Nya,* seperti menciptakan, mengatur, dan lain-lain.(1)

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
“Segala puji adalah milik Allah Rabb bagi semesta alam”.(2)

Tauhid Uluhiyah:


Yaitu mengesakan Allah dengan ibadah, seperti do’a, kurban dan nadzar.(3)

Firman Allah Subhannahu wa Ta'ala :
“Dan Sembahan kamu adalah Tuhan Yang Esa, tiada tuhan yang berhak disembah selain Dia”. (Al-Baqarah: 163)

Tauhid asma’ dan sifat:


Maksudnya adalah mengesakan Allah Subhannahu wa Ta'ala dengan nama dan sifat-sifat yang Dia jelaskan dalam kitab suci-Nya atau yang dijelaskan melalui lisan Rasul-Nya. Yaitu dengan menetapkan nama dan sifat yang Dia tetapkan dan menafikan apa yang Dia nafikan, tanpa mentahrif (merobah) atau mengabaikan (ta’thil), atau takyif atau memberikan perumpamaan(4). Akan tetapi kita beriman bahwa sesungguhnya Allah:

“Tiada sesuatu apapun yang menyerupai-Nya, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Meli-hat.(5)

Tiga landasan yang wajib dipelajari oleh setiap muslim:


1. Mengenal Rabb (Tuhan)-nya.

2. Mengenal din (agama)nya.
3. Mengenal nabinya, yaitu Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam .(6)

Islam:


adalah berserah diri kepada Allah dengan tauhid dan tunduk kepada-Nya dengan keta’atan serta melepaskan diri dari kesyirikan dan para pelaku syirik.(7)


Iman:


adalah keyakinan di dalam hati, diikrarkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota badan.(8)


Ihsan:


adalah beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, dan jika kamu tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.(9)


Di mana Allah?


Allah di langit bersemayan di atas ‘Arsy, sebagaimana Dia jelaskan:

“Tuhan Yang Maha Pengasih bersemayan di atas ‘Arsy”.(10)
Ket : Maksudnya adalah meyakini dan mempercayai sepenuhnya bahwa hanya Allah yang kita yakini sepenuhnya sebagai Rabb (Yang menciptakan, menghidupkan, mengatur, dll. (pent.). 

oleh : Marfat Binti Kamil bin Abdullah Usrah
 

Selasa, 14 Juni 2011

Ketahuilah Hukum-Hukum Agamamu

Majdi As-Sayyid Ibrahim



"Artinya : Dari Ummu Salamah, dia berkata. 'Ummu Sulaim pernah datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam seraya berkata. 'Wahai Rasulullah sesungguhnya Allah tidak merasa malu dari kebenaran. Lalu apakah seorang wanita itu harus mandi jika dia bermimpi ?. Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab. 'Jika dia melihat air (mani)'. Lalu Ummu Salamah menutup wajahnya, dan berkata. 'Wahai Rasulullah, apakah wanita itu juga bisa bermimpi .? 'Beliau menjawab. 'Ya, bisa'. Maka sesuatu yang menyerupai dirinya adalah anaknya". (Hadits shahih, ditakhrij Ahmad 6/306, Al-Bukhari 1/44, Muslim 3/223, At-Tirmidzi, hadits nomor 122, An-Nasa'i 1/114, Ibnu Majah hadits nomor 600, Ad-Darimi 1/195, Al-Baihaqi 1/168-169

Wahai Ukhti Muslimah !
Diantara kebaikan ke-Islaman seorang wanita adalah jika dia mengetahui agamanya. Maka Islam mewajibkan para wanita mencari ilmu sebagaimana yang diwajibkan terhadap kaum laki-laki. Perhatikanlah firman Allah ini.

"Artinya : Katakanlah. Adakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui ?". (Az-Zumar : 9)

Bahkan perhatikan pula firman Allah yang secara khusus ditujukan kepada Ummahatul-Mukminin, yang menganjurkan mereka agar mempelajari kandungan Al-Qur'an dan hadits Nabawi yang dibacakan di rumah-rumah mereka. Firman-Nya.

"Artinya : Dan, ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah". (Al-Ahzab : 34)

Karena perintah Allah inilah para wanita merasakan keutamaan ilmu. Maka mereka pun pergi menemui Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan menuntut suatu majlis bagi mereka dari beliau, agar di situ mereka bisa belajar.
Dari Abu Sa'id Al-Khudry Radhiyallahu anhu, dia berkata. 'Para wanita berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. 'Kaum laki-laki telah mengalahkan kami atas diri engkau. Maka buatlah bagi kami dari waktu engkau'. Maka beliau menjanjikan suatu hari kepada mereka, yang pada saat itu beliau akan menemui mereka dan memberi wasiat serta perintah kepada mereka. Di antara yang beliau katakan kepada mereka adalah : 'Tidaklah ada di antara kamu sekalian seorang wanita yang ditinggal mati oleh tiga anaknya, melainkan anak-anaknya itu menjadi penghalang dari neraka baginya'. Lalu ada seorang wanita yang bertanya. 'Bagaimana dengan dua anak?' Maka beliau menjawab. 'Begitu pula dua anak'. (Diriwayatkan Al-Bukhari, 1/36 dan Muslim 16/181)
Begitulah Islam menyeru agar para wanita diajari dan diberi bimbingan tentang hal-hal yang harus mereka biasakan, untuk kebaikan di dunia dan akhirat.
Wahai Ukhti Muslimah !
Perhatikanlah di dalam wasiat Nabawi ini, bahwa Ummu Salamah datang untuk mempelajari apa-apa yang tidak diketahuinya, sehingga akhirnya dia bisa mengetahui secara komplit. Begitulah seharusnya yang dilakukan seorang wanita muslimah. Dia bisa bertanya tentang hukum-hukum agamanya. Karena yang tahu hukum-hukum tersebut diantara mereka hanya sedikit sekali. Marilah kita simak wasiat ini.

Wahai Ukhti Muslimah !
Perhatikanlah bagaimana adab Ummu Sulaim yang memulai ucapannya dengan berkata. "Sesungguhnya Allah tidak merasa malu dari kebenaran". Maksudnya, tidak ada halangan untuk menjelaskan yang benar. Sehingga Allah membuat perumpamaan dengan seekor nyamuk dan yang serupa lainnya sebagaimana firman-Nya. "Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu". (Al-Baqarah : 26)

Begitu pula Ummu Sulaim. Tidak ada halangan baginya untuk bertanya kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang apa-apa yang mestinya dia ketahui dan dia pelajari, meskipun mungkin hal itu dianggap aneh. Sungguh benar Ummul Mukminin, Aisyah yang berkata. "Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Tidak ada rasa malu yang menghalangi mereka untuk memahami agama". (Diriwayatkan Al-Bukhari 1/44)
Selagi engkau dikungkung rasa malu dan tidak mau mengetahui hukum-hukum agamamu, maka ini merupakan kesalahan yang amat besar, bahkan bisa berbahaya. Ada baiknya engkau membiasakan dirimu untuk tidak merasa malu dalam mempelajari hukum-hukum agama, baik hukum itu kecil maupun besar. Sebab jika seorang wanita lebih banyak dikungkung rasa malu, maka dia sama sekali tidak akan mengetahui sesuatu pun. Perhatikanlah perkataan Mujahid Rahimahullah. "Orang yang malu dan sombong tidak akan mau mempelajari ilmu". Seakan-akan dia menganjurkan orang-orang yang mencari ilmu agar tidak merasa lemah dan takkabur, sebab hal itu akan mempengaruhi usaha mereka dalam mencari ilmu.
Ada suatu pertanyaan dari Ummu Sulaim, dia bertanya. "Apakah seorang wanita itu harus mandi jika dia bermimpi?". Maksudnya, jika dia bermimpi bahwa dia disetubuhi. Jawaban Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Jika dia melihat air". Makna jawaban ini, bahwa jika seorang wanita benar-benar bermimpi dan ada petunjuk atau bukti terjadinya hal itu, yaitu dia melihat adanya bekas air mani di pakaian, maka ini merupakan syarat mandinya. Namun jika dia bermimpi dan tidak melihat bekas air mani, maka dia tidak perlu mandi. Setelah diberi jawaban yang singkat dan padat ini, Ummu Salamah langsung menutupi wajahnya seraya bertanya. "Apakah wanita itu juga bermimpi?".
Wahai Ukhti Muslimah !
Rasa herannya Ummu Salamah itu bukanlah sesuatu yang aneh. Pernah terjadi pada diri Aisyah, sementaranya ilmunya lebih komplit, sebagaimana yang disebutkan dalam suatu riwayat, dia berkata. "Kecelakaan bagimu. Apakah wanita akan mengalami seperti itu ?". Dia berkata seperti itu dengan maksud untuk mengingkari bahwa wanita juga bisa bermimpi.

Jika permasalahan-permasalahannya yang hakiki tidaklah seperti yang disangkakan bahwa setiap wanita bisa bermimpi. Mimpi itu hanya terjadi pada sebagian wanita, sedangkan yang lain tidak. Maka inilah sebab pengingkaran dan keheranan yang muncul dari Ummu Salamah dan Aisyah. Namun keheranan ini bisa dituntaskan oleh jawaban Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : 'Na'am, taribat yaminuki', maksudnya : Benar, seorang wanita bisa bermimpi. Perkataan beliau : "Taribat yaminuki", maksudnya, dia menjadi rendah dan berada di atas tanah. Ini merupakan lafazh yang diucapkan saat menghardik, dan tidak dimaksudkan menurut zhahirnya.
Kemudian di akhir ucapan beliau ada salah satu bukti nubuwah, yaitu perkataan beliau : "Sesuatu yang bisa menyerupai dirinya adalah anaknya".
Wahai Ukhti Muslimah !
Ilmu pengetahuan modern telah menetapkan bahwa laki-laki dan wanita saling bersekutu dalam pembentukan janin. Sebab jenis hewan yang berkembang biak, benih datang dari pasangan laki-laki ke indung telur yang ada di dalam tubuh yang perempuan, lalu sperma yang satu bercampur dengan yang lain. Dengan pengertian, bahwa sefaro sifat-sifat yang diwariskan kira-kira bersumber dari yang laki-laki dan yang sefaronya lagi kira-kira berasal dari perempuan. Kemudian bisa juga terjadi pertukaran dan kesesuaian, sehingga ada sifat-sifat yang lebih menonjol daripada yang lain. Maka dari sinilah terjadi penyerupaan.

Jadi sebagaimana yang engkau ketahui wahai Ukhti Muslimah, seperti apapun keadaannya, tidak mungkin bagi jenis hewan yang berkembang biak, yakni hanya laki-laki saja yang bisa membuahi suatu mahluk hidup, tanpa bersekutu dengan indung telur pada jenis perempuan.
Perhatikanlah bagaimana keindahan pengabaran Nabawi ini. Karena sejak beliau di utus sebagai rasul, jauh sebelum masa Aristoteles, ada kepercayaan bahwa wanita tidak mempunyai campur tangan dalam pembentukan dan keberadaan anak. Hanya air mani sajalah yang terpenting. Mereka tidak yakin bahwa air mani seorang laki-laki akan sampai ke rahim perempuan, lalu berkembang menjadi janin, sedikit demi sedikit janin membesar sehingga menjadi bayi dan akhirnya benar-benar sempurna menjadi sosok manusia di dalam rahim. Lalu Muhammad bin Abdullah datang mengabarkan kepada kita tentang apa yang bakal disibak oleh ilmu pengetahuan modern. Benar, ini merupakan wahyu yang diwahyukan, dan beliau sama sekali tidak berkata dari kemauan dirinya sendiri, tetapi beliau berkata menurut apa yang diajarkan Allah kepada beliau.
Begitulah wahai Ukhti Muslimah apa yang bisa kita pelajari dari wasiat Nabawi ini, semoga Allah memberi manfaat kepada kita semua.