Beberapa hari yang lalu, salah satu sahabat saya bertanya tentang kapan saya akan menggenapkan separuh dien saya. Mmhh.. pertanyaan yang berat untuk saya jawab :). Terus terang, usia saya sudah kena lampu kuning untuk ukuran standar wanita menikah. Bisa dibilang usia yang matang. Tapi tunggu dulu, usia seseorang tidak menjamin kematangan seseorang, baik cara pandang maupun pemikiran. Dan ukuran matang tidaknya seseorangpun tidak ada parameter/spesifikasi yang jelas.
"Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam urusan akhiratnya" (Shahih Jami Ash-Shagir)
Sabtu, 18 Juni 2011
Bila Aku Harus Menikah
Beberapa hari yang lalu, salah satu sahabat saya bertanya tentang kapan saya akan menggenapkan separuh dien saya. Mmhh.. pertanyaan yang berat untuk saya jawab :). Terus terang, usia saya sudah kena lampu kuning untuk ukuran standar wanita menikah. Bisa dibilang usia yang matang. Tapi tunggu dulu, usia seseorang tidak menjamin kematangan seseorang, baik cara pandang maupun pemikiran. Dan ukuran matang tidaknya seseorangpun tidak ada parameter/spesifikasi yang jelas.
Jumat, 17 Juni 2011
Wasiat Sebelum Tidur
Majdi As-Sayyid Ibrahim
Tatkala Fathimah memasuki rumah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, dia tidak mendapatkan beliau. Dia hanya mendapatkan Aisyah, Ummul Mukminin. Lalu Fathimah menyebutkan keperluannya kepada Aisyah. Tatkala beliau tiba, Aisyah mengabarkan urusan Fathimah.
Beliau mempertimbangkan permintaan Fathimah. Dan, memang beliau mempunyai beberapa orang tawanan perang, ada pula dari kaum wanitanya. Tetapi tawanan-tawanan ini akan dijual, dan hasilnya akan disalurkan kepada orang-orang Muslim yang fakir, yang tidak mempunyai tempat tinggal dan makanan kecuali dari apa yang diberikan Rasulullah. Lalu beliau pergi ke rumah Ali, suami Fathimah, yang saat itu keduanya siap hendak tidur. Beliau masuk rumah Ali dan Fathimah setelah meminta ijin dari keduanya. Tatkala beliau masuk, keduanya bermaksud hendak berdiri, namun beliau berkata. "Tetaplah engkau di tempatmu". "Telah dikabarkan kepadaku bahwa engkau datang untuk meminta. Lalu apakah keperluanmu?".
Fathimah menjawab. "Ada kabar yang kudengar bahwa beberapa pembantu telah datang kepada engkau. Maka aku ingin agar engkau memberiku seorang pembantu untuk membantuku membuat roti dan adonannya. Karena hal ini sangat berat bagiku".
Beliau berkata. "Mengapa engkau tidak datang meminta yang lebih engkau sukai atau lebih baik dari hal itu ?". Kemudian beliau memberi isyarat kepada keduanya, bahwa jika keduanya hendak tidur, hendaklah bertasbih kepada Allah, bertakbir dan bertahmid dengan bilangan tertentu yang disebutkan kepada keduanya. Lalu akhirnya beliau berkata. "Itu lebih baik bagimu daripada seorang pembantu".
Ali tidak melupakan wasiat ini, hingga setelah istrinya meninggal. Hal ini dikatakan Ibnu Abi Laila. "Ali berkata, 'Semenjak aku mendengar dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, aku tidak pernah meninggalkan wasiat itu".
Ada yang bertanya. "Tidak pula pada malam perang Shiffin ?".
Ali menjawab. "Tidak pula pada malam perang Shiffin".
(Ditakhrij Muslim 17/46. Yang dimaksud perang Shiffin di sini adalah perang antara pihak Ali dan Mu'awiyah di Shiffin, suatu daerah antara Irak dan Syam. Kedua belah pihak berada di sana beberapa bulan)
Boleh jadi engkau bertanya-tanya apa hubungan antara pembantu yang diminta Fathimah dan dzikir ?
Hubungan keduanya sangat jelas bagi orang yang memiliki hati atau pikiran yang benar-benar sadar. Sebab dzikir bisa memberikan kekuatan kepada orang yang melakukannya. Bahkan kadang-kadang dia bisa melakukan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan. Di antara manfaat dzikir adalah :
Pertama
Menurut Ibnu Baththal, di dalam hadits ini terkandung hujjah bagi keutamaan kemiskinan daripada kekayaan. Andaikata kekayaan lebih utama daripada kemiskinan, tentu beliau akan memberikan pembantu kepada Ali dan Fathimah. Dzikir yang diajarkan beliau dan tidak memberikan pembantu kepada keduanya, bisa diketahui bahwa beliau memilihkan yang lebih utama di sisi Allah bagi keduanya.
Pendapat ini disanggah oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar. Menurutnya, hal ini bisa berlaku jika beliau mempunyai lebihan pembantu. Sementara sudah disebutkan dalam pengabaran di atas bahwa beliau merasa perlu untuk menjual para tawanan itu untuk menafkahi orang-orang miskin. Maka menurut Iyadh, tidak ada sisi pembuktian dengan hadits ini bahwa orang miskin lebih utama daripada orang kaya.
Ada perbedaan pendapat mengenai makna kebaikan dalam pengabaran ini. Iyadh berkata. "Menurut zhahirnya, beliau hendak mengajarkan bahwa amal akhirat lebih utama daripada urusan dunia, seperti apapun keadaannya. Beliau membatasi pada hal itu, karena tidak memungkinkan bagi beliau untuk memberikan pembantu. Kemudian beliau mengajarkan dzikir itu, yang bisa mendatangkan pahala yang lebih utama daripada apa yang diminta keduanya".
Menurut Al-Qurthuby, beliau mengajarkan dzikir kepada keduanya, agar ia menjadi pengganti dari do'a tatkala keduanya dikejar kebutuhan, atau karena itulah yang lebih beliau sukai bagi putrinya, sebagaimana hal itu lebih beliau sukai bagi dirinya, sehingga kesulitannya bisa tertanggulangi dengan kesabaran, dan yang lebih penting lagi, karena berharap mendapat pahala.
Kedua
Disini dapat disimpulkan tentang upaya mendahulukan pencari ilmu daripada yang lain terhadap hak seperlima harta rampasan perang.
Ketiga
Hendaklah seseorang menanggung sendiri beban keluarganya dan lebih mementingkan akhirat daripada dunia kalau memang dia memiliki kemampuan untuk itu.
Keempat
Di dalam hadits ini terkandung pujian yang nyata bagi Ali dan Fathimah.
Kelima
Seperti itu pula gambaran kehidupan orang-orang salaf yang shalih, mayoritas para nabi dan walinya.
Keenam
Disini terkandung pelajaran sikap lemah lembut dan mengasihi anak putri dan menantu, tanpa harus merepotkan keduanya dan membiarkan keduanya pada posisi berbaring seperti semula. Bahkan beliau menyusupkan kakinya yang mulia di antara keduanya, lalu beliau mengajarkan dzikir, sebagai ganti dari pembantu yang diminta.
Ketujuh
Orang yang banyak dzikir sebelum berangkat tidur, tidak akan merasa letih. Sebab Fathimah mengeluh letih karena bekerja. Lalu beliau mengajarkan dzikir itu. Begitulah yang disimpulkan Ibnu Taimiyah. Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata. "Pendapat ini perlu diteliti lagi. Dzikir tidak menghilangkan letih. Tetapi hal ini bisa ditakwil bahwa orang yang banyak berdzikir, tidak akan merasa mendapat madharat karena kerjanya yang banyak dan tidak merasa sulit, meskipun rasa letih itu tetap ada".
Begitulah wahai Ukhti Muslimah, wasiat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang disampaikan kepada salah seorang pemimpin penghuni sorga, Fathimah, yaitu berupa kesabaran yang baik. Perhatikanlah bagaimana seorang putri Nabi dan istri seorang shahabat yang mulia, harus menggiling, membuat adonan roti dan melaksanakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangganya. Maka mengapa engkau tidak menirunya ?
"Ali berkata, Fathimah mengeluhkan bekas alat penggiling yang dialaminya. Lalu pada saat itu ada seorang tawanan yang mendatangi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka Fathimah bertolak, namun tidak bertemu dengan beliau. Dia mendapatkan Aisyah. Lalu dia mengabarkan kepadanya. Tatkala Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tiba, Aisyah mengabarkan kedatangan Fathimah kepada beliau. Lalu beliau mendatangi kami, yang kala itu kami hendak berangkat tidur. Lalu aku siap berdiri, namun beliau berkata. 'Tetaplah di tempatmu'. Lalu beliau duduk di tengah kami, sehingga aku bisa merasakan dinginnya kedua telapak kaki beliau di dadaku. Beliau berkata. 'Ketahuilah, akan kuajarkan kepadamu sesuatu yang lebih baik daripada apa yang engkau minta kepadaku. Apabila engkau hendak tidur, maka bertakbirlah tiga puluh empat kali, bertasbihlah tiga puluh tiga kali, dan bertahmidlah tiga puluh tiga kali, maka itu lebih baik bagimu daripada seorang pembantu". (Hadits Shahih, ditakhrij Al-Bukhari 4/102, Muslim 17/45, Abu Dawud hadits nomor 5062, At-Tirmidzi hadits nomor 3469, Ahmad 1/96, Al-Baihaqy 7/293)
Wahai Ukhti Muslimah !
Inilah wasiat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bagi putrinya yang suci, Fathimah, seorang pemuka para wanita penghuni sorga. Maka marilah kita mempelajari apa yang bermanfa'at bagi kehidupan dunia dan akhirat kita dari wasiat ini.
Fathimah merasa capai karena banyaknya pekerjaan yang harus ditanganinya, berupa pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, terutama pengaruh alat penggiling. Maka dia pun pergi menemui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk meminta seorang pembantu, yakni seorang wanita yang bisa membantunya. Inilah wasiat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bagi putrinya yang suci, Fathimah, seorang pemuka para wanita penghuni sorga. Maka marilah kita mempelajari apa yang bermanfa'at bagi kehidupan dunia dan akhirat kita dari wasiat ini.
Tatkala Fathimah memasuki rumah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, dia tidak mendapatkan beliau. Dia hanya mendapatkan Aisyah, Ummul Mukminin. Lalu Fathimah menyebutkan keperluannya kepada Aisyah. Tatkala beliau tiba, Aisyah mengabarkan urusan Fathimah.
Beliau mempertimbangkan permintaan Fathimah. Dan, memang beliau mempunyai beberapa orang tawanan perang, ada pula dari kaum wanitanya. Tetapi tawanan-tawanan ini akan dijual, dan hasilnya akan disalurkan kepada orang-orang Muslim yang fakir, yang tidak mempunyai tempat tinggal dan makanan kecuali dari apa yang diberikan Rasulullah. Lalu beliau pergi ke rumah Ali, suami Fathimah, yang saat itu keduanya siap hendak tidur. Beliau masuk rumah Ali dan Fathimah setelah meminta ijin dari keduanya. Tatkala beliau masuk, keduanya bermaksud hendak berdiri, namun beliau berkata. "Tetaplah engkau di tempatmu". "Telah dikabarkan kepadaku bahwa engkau datang untuk meminta. Lalu apakah keperluanmu?".
Fathimah menjawab. "Ada kabar yang kudengar bahwa beberapa pembantu telah datang kepada engkau. Maka aku ingin agar engkau memberiku seorang pembantu untuk membantuku membuat roti dan adonannya. Karena hal ini sangat berat bagiku".
Beliau berkata. "Mengapa engkau tidak datang meminta yang lebih engkau sukai atau lebih baik dari hal itu ?". Kemudian beliau memberi isyarat kepada keduanya, bahwa jika keduanya hendak tidur, hendaklah bertasbih kepada Allah, bertakbir dan bertahmid dengan bilangan tertentu yang disebutkan kepada keduanya. Lalu akhirnya beliau berkata. "Itu lebih baik bagimu daripada seorang pembantu".
Ali tidak melupakan wasiat ini, hingga setelah istrinya meninggal. Hal ini dikatakan Ibnu Abi Laila. "Ali berkata, 'Semenjak aku mendengar dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, aku tidak pernah meninggalkan wasiat itu".
Ada yang bertanya. "Tidak pula pada malam perang Shiffin ?".
Ali menjawab. "Tidak pula pada malam perang Shiffin".
(Ditakhrij Muslim 17/46. Yang dimaksud perang Shiffin di sini adalah perang antara pihak Ali dan Mu'awiyah di Shiffin, suatu daerah antara Irak dan Syam. Kedua belah pihak berada di sana beberapa bulan)
Boleh jadi engkau bertanya-tanya apa hubungan antara pembantu yang diminta Fathimah dan dzikir ?
Hubungan keduanya sangat jelas bagi orang yang memiliki hati atau pikiran yang benar-benar sadar. Sebab dzikir bisa memberikan kekuatan kepada orang yang melakukannya. Bahkan kadang-kadang dia bisa melakukan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan. Di antara manfaat dzikir adalah :
- Menghilangkan duka dan kekhawatiran dari hati.
- Mendatangkan kegembiraan dan keceriaan bagi hati.
- Memberikan rasa nyaman dan kehormatan.
- Membersihkan hati dari karat, yaitu berupa lalai dan hawa nafsu.
Boleh jadi engkau juga bertanya-tanya, ada dzikir-dzikir lain yang bisa dibaca sebelum tidur selain ini. Lalu mana yang lebih utama ? Pertanyaan ini dijawab oleh Al-Qady Iyadh : "Telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam beberapa dzikir sebelum berangkat tidur, yang bisa dipilih menurut kondisi, situasi dan orang yang mengucapkannya. Dalam semua dzikir itu terdapat keutamaan".
Secara umum wasiat ini mempunyai faidah yang agung dan banyak manfaat serta kebaikannya. Inilah yang disebutkan oleh sebagian ulama : Pertama
Menurut Ibnu Baththal, di dalam hadits ini terkandung hujjah bagi keutamaan kemiskinan daripada kekayaan. Andaikata kekayaan lebih utama daripada kemiskinan, tentu beliau akan memberikan pembantu kepada Ali dan Fathimah. Dzikir yang diajarkan beliau dan tidak memberikan pembantu kepada keduanya, bisa diketahui bahwa beliau memilihkan yang lebih utama di sisi Allah bagi keduanya.
Pendapat ini disanggah oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar. Menurutnya, hal ini bisa berlaku jika beliau mempunyai lebihan pembantu. Sementara sudah disebutkan dalam pengabaran di atas bahwa beliau merasa perlu untuk menjual para tawanan itu untuk menafkahi orang-orang miskin. Maka menurut Iyadh, tidak ada sisi pembuktian dengan hadits ini bahwa orang miskin lebih utama daripada orang kaya.
Ada perbedaan pendapat mengenai makna kebaikan dalam pengabaran ini. Iyadh berkata. "Menurut zhahirnya, beliau hendak mengajarkan bahwa amal akhirat lebih utama daripada urusan dunia, seperti apapun keadaannya. Beliau membatasi pada hal itu, karena tidak memungkinkan bagi beliau untuk memberikan pembantu. Kemudian beliau mengajarkan dzikir itu, yang bisa mendatangkan pahala yang lebih utama daripada apa yang diminta keduanya".
Menurut Al-Qurthuby, beliau mengajarkan dzikir kepada keduanya, agar ia menjadi pengganti dari do'a tatkala keduanya dikejar kebutuhan, atau karena itulah yang lebih beliau sukai bagi putrinya, sebagaimana hal itu lebih beliau sukai bagi dirinya, sehingga kesulitannya bisa tertanggulangi dengan kesabaran, dan yang lebih penting lagi, karena berharap mendapat pahala.
Kedua
Disini dapat disimpulkan tentang upaya mendahulukan pencari ilmu daripada yang lain terhadap hak seperlima harta rampasan perang.
Ketiga
Hendaklah seseorang menanggung sendiri beban keluarganya dan lebih mementingkan akhirat daripada dunia kalau memang dia memiliki kemampuan untuk itu.
Keempat
Di dalam hadits ini terkandung pujian yang nyata bagi Ali dan Fathimah.
Kelima
Seperti itu pula gambaran kehidupan orang-orang salaf yang shalih, mayoritas para nabi dan walinya.
Keenam
Disini terkandung pelajaran sikap lemah lembut dan mengasihi anak putri dan menantu, tanpa harus merepotkan keduanya dan membiarkan keduanya pada posisi berbaring seperti semula. Bahkan beliau menyusupkan kakinya yang mulia di antara keduanya, lalu beliau mengajarkan dzikir, sebagai ganti dari pembantu yang diminta.
Ketujuh
Orang yang banyak dzikir sebelum berangkat tidur, tidak akan merasa letih. Sebab Fathimah mengeluh letih karena bekerja. Lalu beliau mengajarkan dzikir itu. Begitulah yang disimpulkan Ibnu Taimiyah. Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata. "Pendapat ini perlu diteliti lagi. Dzikir tidak menghilangkan letih. Tetapi hal ini bisa ditakwil bahwa orang yang banyak berdzikir, tidak akan merasa mendapat madharat karena kerjanya yang banyak dan tidak merasa sulit, meskipun rasa letih itu tetap ada".
Begitulah wahai Ukhti Muslimah, wasiat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang disampaikan kepada salah seorang pemimpin penghuni sorga, Fathimah, yaitu berupa kesabaran yang baik. Perhatikanlah bagaimana seorang putri Nabi dan istri seorang shahabat yang mulia, harus menggiling, membuat adonan roti dan melaksanakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangganya. Maka mengapa engkau tidak menirunya ?
Benarkah Shalat Jum'at Pengganti Shalat Zhuhur ?
Oleh Al-Lajnah Ad-Da'imah Lil Ifta'
Pertanyaan
Al-Lajnah Ad-Da'imah Lil Ifta' ditanya : Jika seorang wanita telah melaksanakan shalat Jum'at, apakah ia tidak berkewajiban lagi untuk melaksanakan shalat Zhuhur .?
Jawaban
Jika seorang wanita melaksanakan shalat Jum'at bersama imam Jum'at, maka telah cukup shalat Jum'at itu untuk menggantikan pelaksanaan shalat Zhuhur, dan tidak boleh baginya untuk melaksanakan shalat Zhuhur pada hari itu. Adapun jika melaksanakannya seorang diri, maka tidak boleh baginya untuk melaksanakan shalat kecuali shalat Zhuhur dan tidak boleh baginya melaksanakan shalat Jum'at.
[Fatawa Al-Lajnah Ad-Da'imah Lil Ifta VII/212, fatwa nomor 4147]
HUKUM SHALAT JUM'AT BAGI WANITA
Oleh Al-Lajnah Ad-Da'imah Lil Ifta'
Pertanyaan
Al-Lajnah Ad-Da'imah Lil Ifta diatanya : Apa hukumnya pelaksanaan shalat Jum'at bagi wanita, apakah shalat itu dilakukan sebelum atau sesudah kaum pria atau bersama-sama mereka .?
Jawaban
Shalat Jum'at tidak diwajibkan bagi kaum wanita, akan tetapi jika seorang wanita melaksanakan shalat Jum'at bersama imam shalat Jum'at maka shalatnya sah, tapi jika ia melaksanakan shalat seorang diri di rumah maka ia harus melaksanakan shalat Zhuhur sampai empat rakaat, shalat Zhuhur itu dilaksanakan setelah masuknya waktu shalat atau setelah matahari condong ke barat, dan tidak boleh bagi seorang wanita untuk melaksanakan shalat Jum'at seorang diri.
[Fatawa Al-Lajnah Ad-Da'imah Lil Ifta VII/212, fatwa nomor 4148]
Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami'ah Lil Mar'atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq hal 149-150, penerjemah Amir Hamzah Fakhrudin
Pertanyaan
Al-Lajnah Ad-Da'imah Lil Ifta' ditanya : Jika seorang wanita telah melaksanakan shalat Jum'at, apakah ia tidak berkewajiban lagi untuk melaksanakan shalat Zhuhur .?
Jawaban
Jika seorang wanita melaksanakan shalat Jum'at bersama imam Jum'at, maka telah cukup shalat Jum'at itu untuk menggantikan pelaksanaan shalat Zhuhur, dan tidak boleh baginya untuk melaksanakan shalat Zhuhur pada hari itu. Adapun jika melaksanakannya seorang diri, maka tidak boleh baginya untuk melaksanakan shalat kecuali shalat Zhuhur dan tidak boleh baginya melaksanakan shalat Jum'at.
[Fatawa Al-Lajnah Ad-Da'imah Lil Ifta VII/212, fatwa nomor 4147]
HUKUM SHALAT JUM'AT BAGI WANITA
Oleh Al-Lajnah Ad-Da'imah Lil Ifta'
Pertanyaan
Al-Lajnah Ad-Da'imah Lil Ifta diatanya : Apa hukumnya pelaksanaan shalat Jum'at bagi wanita, apakah shalat itu dilakukan sebelum atau sesudah kaum pria atau bersama-sama mereka .?
Jawaban
Shalat Jum'at tidak diwajibkan bagi kaum wanita, akan tetapi jika seorang wanita melaksanakan shalat Jum'at bersama imam shalat Jum'at maka shalatnya sah, tapi jika ia melaksanakan shalat seorang diri di rumah maka ia harus melaksanakan shalat Zhuhur sampai empat rakaat, shalat Zhuhur itu dilaksanakan setelah masuknya waktu shalat atau setelah matahari condong ke barat, dan tidak boleh bagi seorang wanita untuk melaksanakan shalat Jum'at seorang diri.
[Fatawa Al-Lajnah Ad-Da'imah Lil Ifta VII/212, fatwa nomor 4148]
Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami'ah Lil Mar'atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, terbitan Darul Haq hal 149-150, penerjemah Amir Hamzah Fakhrudin
Manfaat Semangka
Semangka dipercaya berasal dari gurun Kalahari, Afrika. Menurut para peneliti, buah ini pertama kali dipanen 5000 tahun yang lalu di Mesir dan menurut kepercayaan nenek moyang saat itu, buah ini terpakai untuk penguburan raja-raja agar roh mereka mendapat nutrisi di alam baka. Dan dari sanalah semangka dibawa keliling ke negara-negara di dunia.
Hari ini, kita tahu bahwa yang sudah dikubur jelas tidak bisa lagi menikmati nutrisi semangka. Kitalah yang berhak menikmati lezatnya dan betapa bergizinya buah yang satu potongnya sama fungsinya dengan segelas air tersebut. Tapi ingat, ketika mengkonsumsi semangka, bagian hijau dekat kulitnya ialah bagian terpenting yang harus ikut anda makan selain warna merah/kuningnya saja.
Apa saja fungsi semangka?
Hari ini, kita tahu bahwa yang sudah dikubur jelas tidak bisa lagi menikmati nutrisi semangka. Kitalah yang berhak menikmati lezatnya dan betapa bergizinya buah yang satu potongnya sama fungsinya dengan segelas air tersebut. Tapi ingat, ketika mengkonsumsi semangka, bagian hijau dekat kulitnya ialah bagian terpenting yang harus ikut anda makan selain warna merah/kuningnya saja.
Apa saja fungsi semangka?
Ketika Dengki Menyulut Dendam
"Kedengkian memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar," (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).
Suatu ketika Rasulullah saw dan para sahabatnya duduk di masjid menunggu datangnya shalat Ashar. Tiba-tiba, beliau bersabda, "Tak lama lagi akan datang calon penghuni surga." Mendengar sabda Rasulullah saw tersebut, Anas bin Malik penasaran dan ingin mengetahui siapa gerangan yang dimaksud. Tak lama kemudian masuklah seorang pria berpenampilan sederhana. Dari janggutnya masih menetes bekas air wudhu. Sesampai di Masjid ia shalat dua rakaat. Ketika waktu Ashar tiba, pria itu pun ikut shalat berjamaah.
Keesokkan harinya, di waktu yang sama, Rasulullah saw mengulangi kembali sabdanya, "Segera akan datang seorang pria calon penghuni surga." Ternyata, sosok yang dimaksud adalah pria itu lagi. Rasulullah saw bersabda kembali hingga tiga hari berturut-turut. Dan, yang dimaksudnya pria itu juga.
Peristiwa itu tak hanya membuat penasaran sahabat Anas bin Malik, tapi juga menarik perhatian seorang pemuda bernama Abdullah bin Umar. Ia pun tertarik untuk mengetahui rahasia dan keistimewaan yang dimiliki laki-laki itu. Selepas Isya', Abdullah bin Umar sengaja membuntuti sampai ke rumahnya. Aksi Abdullah bin Umar itu pun diketahui. "Aku lihat sejak dari masjid engkau mengikutiku. Apa maksudmu?" tanya laki-laki itu.
Abdullah mengutarakan keinginannya untuk menginap di rumah laki-laki itu. Kesederhanaan tempat tinggal, dan jamuan makan tak mengundang rasa penasaran Abdullah. Ia sengaja tak tidur semalam karena ingin menyaksikan pria itu bangun tengah malam dan melaksanakan qiyamul lail. Usai shalat tahajjud ia tidur kembali dan bangun menjelang Subuh. Kemudian, bersama Abdullah bin Umar, ia berangkat bekerja sebagai tukang batu. Sorenya pria itu ke masjid dan malamnya pulang ke rumahnya. Abdullah bin Umar mengikuti laki-laki itu hingga tiga hari lamanya. Tak ada yang aneh.
Pada malam terakhir menginap, Abdullah bin Umar berkata, "Aku sengaja menginap di rumahmu karena mendengar Rasulullah saw mengatakan, Anda calon penghuni surga. Aku ingin tahu apa keistimewaan Anda sehingga mendapat jaminan itu?"
Mulanya laki-laki itu menjawab biasa saja. Ia pun tidak tahu. "Aku tak melakukan ibadah apa pun lebih dari kebiasaanku," katanya. Selanjutnya ia berkata, "Aku hanya istiqamah melaksanakan kewajibanku tepat pada waktunya. Aku tak menyakiti seseorang manusia pun. Aku tak pernah dengki terhadap sesuatu nikmat yang Allah berikan pada orang lain."
Mendengar jawaban lelaki itu, Abdullah berkata, "Inilah yang telah mengangkat derajat Anda menjadi penghuni surga sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw."
Ya, kasih sayang Allah meliputi semua makhluk-Nya, baik ketika hidup di dunia maupun di akhirat. Allah menyiapkan surga, tak hanya bagi orang-orang tertentu yang mempunyai kedudukan istimewa. Orang biasa yang melakukan amalan biasa-biasa juga bisa menikmati surga. Seperti kisah yang diriwayatkan Imam Ahmad di atas. Kebersahajaan ibadah, disempurnakan dengan akhlakul karimah.
Di akhirat kelak, amalan yang timbangannya amat berat adalah akhlak, sebagaimana sabda Rasulullah, "Tak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (pada hari kiamat) dari akhlak yang baik," (HR. Abu Dawud). Akhlak inilah yang pada hari akhirat banyak membantu kaum Muslimin memperoleh surga. Sebaliknya karena akhlak pula banyak orang yang ketika di dunia sangat aktif beribadah justru tergelincir mencicipi neraka. Mereka inilah yang disebut-sebut dalam hadits Rasulullah saw sebagai orang yang bangkrut. Nabi saw lalu berkata, "Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku ialah yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan puasa, shalat dan zakat, tetapi dia pernah mencaci maki orang ini dan menuduh orang itu berbuat zina. Dia pernah memakan harta orang itu lalu dia menanti orang ini menuntut dan mengambil pahalanya (sebagai tebusan) dan orang itu mengambil pula pahalanya. Bila pahalanya habis sebelum selesai tuntutan yang mengganti tebusan atas dosa-dosanya, maka dosa orang-orang yang menuntut itu diletakkan di atas bahunya lalu dia dihempaskan ke api neraka," (HR Muslim).
Banyak kita dapati orang-orang yang apabila diperhitungkan amalan ibadahnya sungguh sangat mengagumkan. Namun, sayang mereka masih sering mengabaikan akhlak. Hubungan dan interaksi sosialnya sangat buruk. Ia masih memendam rasa iri, hasut dan dengki. Kadang-kadang tak bisa melepaskan dari dari ghibah, fitnah, bahkan namimah (mengadu domba).
Padahal, Rasulullah saw menegaskan, "Orang yang paling dekat denganku kedudukannya pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya," (HR. ar-Ridha).
Berkaitan hal ini, ath-Thabari meriwayatkan, Ummu Salamah, istri Rasulullah saw pernah bertanya kepada beliau perihal istri yang pernah beberapa kali menikah karena suaminya meninggal. "Ya Rasulullah, seorang perempuan dari kami ada yang nikah dua, tiga, dan empat kali (karena suaminya meninggal), lalu dia wafat dan masuk surga bersama suami-suaminya juga. Siapakah yang akan menjadi suaminya kelak di surga?"
Nabi saw menjawab, "Dia disuruh memilih. Yang dipilih adalah yang paling baik akhlaknya dan berkata, 'Ya Rabbku, orang ini ketika di dunia paling baik akhlaknya kepadaku, maka kawinkanlah aku dengannya." Masih dalam riwayat yang sama, Rasulullah kembali menegaskan, "Wahai Ummu Salamah, akhlak yang baik membawa kebaikan untuk kehidupan di dunia dan akhirat."
Jika dilihat kisah Abdullah bin Umar dalam hadits di atas, ada akhlak yang bisa mengangkat seseorang sampai pada posisi puncak sebagai penghuni surga walaupun ibadahnya biasa-biasa saja. Yaitu, merasa cukup dan tidak dengki pada orang lain. Sebaliknya, jika diabaikan sifat ini justru sangat berbahaya. Rasulullah saw menegaskan, "Waspadalah terhadap hasud (iri dan dengki), sesungguhnya hasud mengikis pahala-pahala sebagaimana api memakan kayu bakar," (HR. Abu Daud).
Sifat dengki adalah keinginan seseorang agar nikmat yang ada pada orang lain hilang. Sifat ini biasanya selalu ada pada setiap pembenci, sombong dan kikir. Bila orang lain mendapatkan kebaikan, niscaya ia bersedih hati dan bila orang lain mendapatkan bencana ia justru bergembira. Umar bin al-Khaththab pernah berkata, "Cukup sebagai bukti si pendengki terhadapmu manakala ia merasa gundah di saat kamu bahagia." Abu al-Laits as-Samarqandi, seorang ulama berkata, "Lima perkara akan sampai pada si pendengki sebelum kedengkiannya sampai pada orang yang didengkinya. Pertama, kegundahan yang tiada henti. Kedua, mendapat musibah yang tak berbuah pahala. Ketiga, celaan yang tak berujung pujian. Keempat, kemurkaan Rabb. Kelima, tertutupnya pintu taufik baginya."
Menjaga kebersihan hati akan membuat kita senantiasa waspada dari sifat dengki. Karenanya, hakikat dengki menjadi penting untuk diketahui. Hasad adalah penyakit lama yang selalu menyebabkan orang lain tersakiti dan terzalimi. Sang pendengki biasanya selalu meradang terhadap orang yang tak berdosa.
Dunia tak berhak dihuni para pendengki. Orang yang dengki ibarat api yang akan melalap bagiannya sendiri jika tak ada lagi yang bisa dilalapnya. Kisah Habil dan Qabil, serta Nabi Yusuf dan saudara-saudaranya menjadi pelajaran bagi kita. Ketika kedengkian itu mencapai puncaknya, ia akan melahap apa saja yang ada di sekitarnya. "Kedengkian memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar," (HR. Abu Daud dari Abu Hurairah dan Ibnu Majah dari Anas).
Dengki adalah persoalan hati. Dari dengki lahirlah buruk sangka. Buruk sangka akan melahirkan fitnah, tuduhan dan dendam. Dendam akan melahirkan perpecahan dan permusuhan. Inilah yang akan mencerai-beraikan umat Islam. "Penyakit umat sebelum kamu telah menular kepada kamu. Yaitu hasad dengki dan permusuhan. Permusuhan tersebut ialah pengikis dan atau pencukur. Saya tidak maksudkannya ia mencukur rambut, tetapi (yang saya maksudkan) ialah mengikis agama," (HR. Baihaqi).
Hepi Andi
Suatu ketika Rasulullah saw dan para sahabatnya duduk di masjid menunggu datangnya shalat Ashar. Tiba-tiba, beliau bersabda, "Tak lama lagi akan datang calon penghuni surga." Mendengar sabda Rasulullah saw tersebut, Anas bin Malik penasaran dan ingin mengetahui siapa gerangan yang dimaksud. Tak lama kemudian masuklah seorang pria berpenampilan sederhana. Dari janggutnya masih menetes bekas air wudhu. Sesampai di Masjid ia shalat dua rakaat. Ketika waktu Ashar tiba, pria itu pun ikut shalat berjamaah.
Keesokkan harinya, di waktu yang sama, Rasulullah saw mengulangi kembali sabdanya, "Segera akan datang seorang pria calon penghuni surga." Ternyata, sosok yang dimaksud adalah pria itu lagi. Rasulullah saw bersabda kembali hingga tiga hari berturut-turut. Dan, yang dimaksudnya pria itu juga.
Peristiwa itu tak hanya membuat penasaran sahabat Anas bin Malik, tapi juga menarik perhatian seorang pemuda bernama Abdullah bin Umar. Ia pun tertarik untuk mengetahui rahasia dan keistimewaan yang dimiliki laki-laki itu. Selepas Isya', Abdullah bin Umar sengaja membuntuti sampai ke rumahnya. Aksi Abdullah bin Umar itu pun diketahui. "Aku lihat sejak dari masjid engkau mengikutiku. Apa maksudmu?" tanya laki-laki itu.
Abdullah mengutarakan keinginannya untuk menginap di rumah laki-laki itu. Kesederhanaan tempat tinggal, dan jamuan makan tak mengundang rasa penasaran Abdullah. Ia sengaja tak tidur semalam karena ingin menyaksikan pria itu bangun tengah malam dan melaksanakan qiyamul lail. Usai shalat tahajjud ia tidur kembali dan bangun menjelang Subuh. Kemudian, bersama Abdullah bin Umar, ia berangkat bekerja sebagai tukang batu. Sorenya pria itu ke masjid dan malamnya pulang ke rumahnya. Abdullah bin Umar mengikuti laki-laki itu hingga tiga hari lamanya. Tak ada yang aneh.
Pada malam terakhir menginap, Abdullah bin Umar berkata, "Aku sengaja menginap di rumahmu karena mendengar Rasulullah saw mengatakan, Anda calon penghuni surga. Aku ingin tahu apa keistimewaan Anda sehingga mendapat jaminan itu?"
Mulanya laki-laki itu menjawab biasa saja. Ia pun tidak tahu. "Aku tak melakukan ibadah apa pun lebih dari kebiasaanku," katanya. Selanjutnya ia berkata, "Aku hanya istiqamah melaksanakan kewajibanku tepat pada waktunya. Aku tak menyakiti seseorang manusia pun. Aku tak pernah dengki terhadap sesuatu nikmat yang Allah berikan pada orang lain."
Mendengar jawaban lelaki itu, Abdullah berkata, "Inilah yang telah mengangkat derajat Anda menjadi penghuni surga sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw."
Ya, kasih sayang Allah meliputi semua makhluk-Nya, baik ketika hidup di dunia maupun di akhirat. Allah menyiapkan surga, tak hanya bagi orang-orang tertentu yang mempunyai kedudukan istimewa. Orang biasa yang melakukan amalan biasa-biasa juga bisa menikmati surga. Seperti kisah yang diriwayatkan Imam Ahmad di atas. Kebersahajaan ibadah, disempurnakan dengan akhlakul karimah.
Di akhirat kelak, amalan yang timbangannya amat berat adalah akhlak, sebagaimana sabda Rasulullah, "Tak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (pada hari kiamat) dari akhlak yang baik," (HR. Abu Dawud). Akhlak inilah yang pada hari akhirat banyak membantu kaum Muslimin memperoleh surga. Sebaliknya karena akhlak pula banyak orang yang ketika di dunia sangat aktif beribadah justru tergelincir mencicipi neraka. Mereka inilah yang disebut-sebut dalam hadits Rasulullah saw sebagai orang yang bangkrut. Nabi saw lalu berkata, "Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku ialah yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan puasa, shalat dan zakat, tetapi dia pernah mencaci maki orang ini dan menuduh orang itu berbuat zina. Dia pernah memakan harta orang itu lalu dia menanti orang ini menuntut dan mengambil pahalanya (sebagai tebusan) dan orang itu mengambil pula pahalanya. Bila pahalanya habis sebelum selesai tuntutan yang mengganti tebusan atas dosa-dosanya, maka dosa orang-orang yang menuntut itu diletakkan di atas bahunya lalu dia dihempaskan ke api neraka," (HR Muslim).
Banyak kita dapati orang-orang yang apabila diperhitungkan amalan ibadahnya sungguh sangat mengagumkan. Namun, sayang mereka masih sering mengabaikan akhlak. Hubungan dan interaksi sosialnya sangat buruk. Ia masih memendam rasa iri, hasut dan dengki. Kadang-kadang tak bisa melepaskan dari dari ghibah, fitnah, bahkan namimah (mengadu domba).
Padahal, Rasulullah saw menegaskan, "Orang yang paling dekat denganku kedudukannya pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya," (HR. ar-Ridha).
Berkaitan hal ini, ath-Thabari meriwayatkan, Ummu Salamah, istri Rasulullah saw pernah bertanya kepada beliau perihal istri yang pernah beberapa kali menikah karena suaminya meninggal. "Ya Rasulullah, seorang perempuan dari kami ada yang nikah dua, tiga, dan empat kali (karena suaminya meninggal), lalu dia wafat dan masuk surga bersama suami-suaminya juga. Siapakah yang akan menjadi suaminya kelak di surga?"
Nabi saw menjawab, "Dia disuruh memilih. Yang dipilih adalah yang paling baik akhlaknya dan berkata, 'Ya Rabbku, orang ini ketika di dunia paling baik akhlaknya kepadaku, maka kawinkanlah aku dengannya." Masih dalam riwayat yang sama, Rasulullah kembali menegaskan, "Wahai Ummu Salamah, akhlak yang baik membawa kebaikan untuk kehidupan di dunia dan akhirat."
Jika dilihat kisah Abdullah bin Umar dalam hadits di atas, ada akhlak yang bisa mengangkat seseorang sampai pada posisi puncak sebagai penghuni surga walaupun ibadahnya biasa-biasa saja. Yaitu, merasa cukup dan tidak dengki pada orang lain. Sebaliknya, jika diabaikan sifat ini justru sangat berbahaya. Rasulullah saw menegaskan, "Waspadalah terhadap hasud (iri dan dengki), sesungguhnya hasud mengikis pahala-pahala sebagaimana api memakan kayu bakar," (HR. Abu Daud).
Sifat dengki adalah keinginan seseorang agar nikmat yang ada pada orang lain hilang. Sifat ini biasanya selalu ada pada setiap pembenci, sombong dan kikir. Bila orang lain mendapatkan kebaikan, niscaya ia bersedih hati dan bila orang lain mendapatkan bencana ia justru bergembira. Umar bin al-Khaththab pernah berkata, "Cukup sebagai bukti si pendengki terhadapmu manakala ia merasa gundah di saat kamu bahagia." Abu al-Laits as-Samarqandi, seorang ulama berkata, "Lima perkara akan sampai pada si pendengki sebelum kedengkiannya sampai pada orang yang didengkinya. Pertama, kegundahan yang tiada henti. Kedua, mendapat musibah yang tak berbuah pahala. Ketiga, celaan yang tak berujung pujian. Keempat, kemurkaan Rabb. Kelima, tertutupnya pintu taufik baginya."
Menjaga kebersihan hati akan membuat kita senantiasa waspada dari sifat dengki. Karenanya, hakikat dengki menjadi penting untuk diketahui. Hasad adalah penyakit lama yang selalu menyebabkan orang lain tersakiti dan terzalimi. Sang pendengki biasanya selalu meradang terhadap orang yang tak berdosa.
Dunia tak berhak dihuni para pendengki. Orang yang dengki ibarat api yang akan melalap bagiannya sendiri jika tak ada lagi yang bisa dilalapnya. Kisah Habil dan Qabil, serta Nabi Yusuf dan saudara-saudaranya menjadi pelajaran bagi kita. Ketika kedengkian itu mencapai puncaknya, ia akan melahap apa saja yang ada di sekitarnya. "Kedengkian memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar," (HR. Abu Daud dari Abu Hurairah dan Ibnu Majah dari Anas).
Dengki adalah persoalan hati. Dari dengki lahirlah buruk sangka. Buruk sangka akan melahirkan fitnah, tuduhan dan dendam. Dendam akan melahirkan perpecahan dan permusuhan. Inilah yang akan mencerai-beraikan umat Islam. "Penyakit umat sebelum kamu telah menular kepada kamu. Yaitu hasad dengki dan permusuhan. Permusuhan tersebut ialah pengikis dan atau pencukur. Saya tidak maksudkannya ia mencukur rambut, tetapi (yang saya maksudkan) ialah mengikis agama," (HR. Baihaqi).
Hepi Andi
Kamis, 16 Juni 2011
Solusi Penyakit Maag Tanpa Mengobati
Kebanyakan orang sudah kenal dengan penyakit maag. Sehingga terkadang juga bisa mengantisipasinya bila terserang gejala penyakit ini. Dalam istilah kedokteran, penyakit maag disebut gastritis atau peradangan lambung. Untuk gejala yang lebih ringan sering disebut dengan dyspepsia.
Daerah Lambung yang Terkena
Kiat Mengenal Calon Tanpa Pacaran
Untuk mengenal calon tanpa pacaran dapat kita ketahui melalui cara-cara yang efektif, yaitu :
- Bertanyalah kepada orang yang dianggap paling dekat dengan calon tersebut yang dapat dipercaya sehingga Insya Allah informasi yang kita dapatkan cukup objektif. Dari sinilah kita dapat mengenali sifat-sifat yang tidak nampak dalam tampil sekejap dan sifat-sifat ini penting bagi yang ingin membangun rumah tangga bersama. Dalam sebuah syair diungkapkan "Jika kamu ingin bertanya tentang seseorang tanyalah kepada orang terpercaya yang paling dekat dengan orang tersebut (sahabat), karena orang yang saling bersahabat itu saling mempengaruhi". Namun untuk mengetahui penampilan/fisiknya tentu dengan melihat dan cara melihatnya tanpa sepengatahuannya."
Langganan:
Postingan (Atom)





