"Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam urusan akhiratnya" (Shahih Jami Ash-Shagir)
Selasa, 07 Mei 2013
Senin, 15 April 2013
10 Karakter Muslimah yang Harus Diusahakan :)
1. Salimul Aqidah (Aqidah yang lurus)

Dengan aqidah yang bersih, kita akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah SWT. Dengan ikatan yang kuat itu kita tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, kita akan menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah. Jadi ga akan ke dukun, ga percaya zodiak dan takhayul, dll, yaaa.. ;)
2. Shahihul Ibadah (Ibadah dengan Benar)
“Shalatlah kamu sebagaimana melihat aku shalat”. Dari ungkapan Rasulullah ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan mahdhoh (sholat, puasa, zakat, dll) haruslah merujuk kepada sunnah Rasul SAW, yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan (bid’ah). Sudah benarkah ibadah kita? ;)
3. Matiinul Khuluq (Akhlak yang Kokoh)
Akhlak yang terpuji tuh penting, maka Rasulullah SAW diutus untuk memperbaiki akhlak dan Beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al Qur’an. Allah berfirman yang artinya:“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung” (QS. 68:4).
4. Qowiyyul Jismi (Jasmani yang Kuat)
Kekuatan jasmani berarti kita memiliki daya tahan tubuh yang baik sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat dan kuat. Apalagi berjihad di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.
“Mukmin yang kuat lebih aku cintai daripada mukmin yang lemah (HR. Muslim)
5. Mutsaqqoful Fikri (intelek dalam berfikir)
Makin banyak ilmu, makin banyak yang bisa kita lakukan. Bayangkan, ketika zaman sekarang kita (muslim/ah) tidak pintar, pasti kita yang akan dipinterin (oleh orang2 yang ga suka ama Islam)
“Samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (QS 39:9)
6. Mu(jahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu)
Mujahadatul linafsihi merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan. “Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam)” (HR. Hakim)
7. Haritsun Ala Waqtihi (pandai menjaga waktu)
Allah SWT memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: “Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu”. kekekekeeekk…
Ingat lima perkara : hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk, dan kaya sebelum miskin.
8. Munazhzhamun fi Syu’unihi (teratur dalam suatu urusan)
Apapun yang dikerjakan, profesionalisme selalu diperhatikan. Bersungguh-sungguh, bersemangat, berkorban, berkelanjutan, dan berbasis ilmu pengetahuan merupakan hal-hal yang mesti mendapat perhatian serius dalam penunaian tugas2.
9. Qodirun Alal Kasbi (memiliki kemampuan usaha mandiri)
Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik. Keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat riezeki dari Allah SWT. Rezeki yang telah Allah sediakan harus diambil dan untuk mengambilnya diperlukan skill atau ketrampilan.
Lagipula, kita emang mesti punya duit. Kalo ga punya duit, gimana bisa kita sedekah, zakat, atau pergi haji?
10. Nafi’un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain)
Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun kita berada, orang dicsekitar kita merasakan keberadaan kita. Jangan sampai keberadaan kita tidak menggenapkan dan ketiadaan kita tidak mengganjilkan.
Yuk, persiapkan diri kita dan berupaya maksimal untuk bisa bermanfaat dan mengambil peran yang baik dalam lingkungan. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Qudhy dari Jabir).
(source : orangeumar)

Dengan aqidah yang bersih, kita akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah SWT. Dengan ikatan yang kuat itu kita tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, kita akan menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah. Jadi ga akan ke dukun, ga percaya zodiak dan takhayul, dll, yaaa.. ;)
2. Shahihul Ibadah (Ibadah dengan Benar)
“Shalatlah kamu sebagaimana melihat aku shalat”. Dari ungkapan Rasulullah ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan mahdhoh (sholat, puasa, zakat, dll) haruslah merujuk kepada sunnah Rasul SAW, yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan (bid’ah). Sudah benarkah ibadah kita? ;)
3. Matiinul Khuluq (Akhlak yang Kokoh)
Akhlak yang terpuji tuh penting, maka Rasulullah SAW diutus untuk memperbaiki akhlak dan Beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al Qur’an. Allah berfirman yang artinya:“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung” (QS. 68:4).
4. Qowiyyul Jismi (Jasmani yang Kuat)

Kekuatan jasmani berarti kita memiliki daya tahan tubuh yang baik sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat dan kuat. Apalagi berjihad di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.
“Mukmin yang kuat lebih aku cintai daripada mukmin yang lemah (HR. Muslim)
5. Mutsaqqoful Fikri (intelek dalam berfikir)

Makin banyak ilmu, makin banyak yang bisa kita lakukan. Bayangkan, ketika zaman sekarang kita (muslim/ah) tidak pintar, pasti kita yang akan dipinterin (oleh orang2 yang ga suka ama Islam)
“Samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (QS 39:9)
6. Mu(jahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu)
Mujahadatul linafsihi merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan. “Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam)” (HR. Hakim)
7. Haritsun Ala Waqtihi (pandai menjaga waktu)
Allah SWT memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: “Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu”. kekekekeeekk…
Ingat lima perkara : hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk, dan kaya sebelum miskin.
8. Munazhzhamun fi Syu’unihi (teratur dalam suatu urusan)
Apapun yang dikerjakan, profesionalisme selalu diperhatikan. Bersungguh-sungguh, bersemangat, berkorban, berkelanjutan, dan berbasis ilmu pengetahuan merupakan hal-hal yang mesti mendapat perhatian serius dalam penunaian tugas2.
9. Qodirun Alal Kasbi (memiliki kemampuan usaha mandiri)
Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik. Keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat riezeki dari Allah SWT. Rezeki yang telah Allah sediakan harus diambil dan untuk mengambilnya diperlukan skill atau ketrampilan.
Lagipula, kita emang mesti punya duit. Kalo ga punya duit, gimana bisa kita sedekah, zakat, atau pergi haji?
10. Nafi’un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain)

Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun kita berada, orang dicsekitar kita merasakan keberadaan kita. Jangan sampai keberadaan kita tidak menggenapkan dan ketiadaan kita tidak mengganjilkan.
Yuk, persiapkan diri kita dan berupaya maksimal untuk bisa bermanfaat dan mengambil peran yang baik dalam lingkungan. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Qudhy dari Jabir).
(source : orangeumar)
Kamis, 11 April 2013
Apa Pekerjaan Yang Terbaik?
Oleh : @RumayshoComManakah pekerjaan terbaik bagi seorang muslim? Apakah berdagang lebih utama dari lainnya? Ataukah pekerjaan terbaik tergantung dari keadaan tiap individu?
Ada yang pernah bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
أَىُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ قَالَ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ
“Wahai Rasulullah, mata pencaharian (kasb) apakah
yang paling baik?” Beliau bersabda, “Pekerjaan seorang laki-laki dengan
tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur (diberkahi).” (HR. Ahmad 4: 141, hasan lighoirihi)
Pekerjaan yang Thoyyib
Kasb yang dimaksud dalam hadits di atas adalah usaha atau pekerjaan mencari rizki. Asy Syaibani mengatakan bahwa kasb adalah mencari harta dengan menempuh sebab yang halal. Sedangkan kasb thoyyib, maksudnya adalah usaha yang berkah atau halal. Sehingga pertanyaan dalam hadits di atas dimaksudkan ‘manakah pekerjaan yang paling diberkahi?’
Kita dapat mengambil pelajaran penting bahwa para sahabat tidak bertanya manakah pekerjaan yang paling banyak penghasilannya. Namun yang mereka tanya adalah manakah yang paling thoyyib (diberkahi). Sehingga dari sini kita dapat tahu bahwa tujuan dalam mencari rizki adalah mencari yang paling berkah, bukan mencari manakah yang menghasilkan paling banyak. Karena penghasilan yang banyak belum tentu barokah. Demikian penjelasan berharga dari Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al Fauzan dalam Minhatul ‘Allam, 6: 10.
Minggu, 24 Februari 2013
Tanda Bakti pada Orang Tua
Setiap anak ketika
pasti ingin jadi anak yang patuh dan taat pada orang tua. Namun kadang
itu hanya di lisan saja tanpa direalisasikan. Bagaimana bentuk bakti
pada Orang Tua? Beginilah Islam mengajarkannya.
1- Menaati perintahnya selama bukan dalam perkara yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.
“Tidak ada ketaatan dalam melakukan maksiat. Sesungguhnya ketaatan hanya dalam melakukan kebajikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tanda tidak bakti pada ibu adalah ketika disuruh sama ibu, malah ngomel dan bantah. Ini namanya durhaka.
2- Mendahulukan perintahnya dari perkara yang hanya dianjurkan (sunnah). Jika Anda sedang shalat sunnah, sedangkan ibu Anda memanggil, maka tetap panggillan Ibu Anda lebih dahulu dipenuhi. Karena memenuhi panggilan ibu itu wajib, sedangkan shalat sunnah berada di bawah wajib.
3- Menghiasi diri dengan akhlak yang mulia di hadapannya, di antaranya adalah dengan tidak mengeraskan suara di hadapan mereka, bukan dengan sering cemberut ketika disuruh, bukan malah bantah ketika sedang nonton TV padahal Ibu sangat mohon bantuannya.
Dari Thaisalah bin Mayyas, ia berkata bahwa Ibnu Umar pernah bertanya, “Apakah engkau takut masuk neraka dan ingin masuk surga?” ”Ya, saya ingin”, jawabku. Beliau bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” “Saya masih memiliki seorang ibu”, jawabku. Beliau berkata, “Demi Allah, sekiranya engkau berlemah lebut dalam bertutur kepadanya dan memasakkan makanan baginya, sungguh engkau akan masuk surga selama engkau menjauhi dosa-dosa besar.” (Adabul Mufrod no. 8, shahih)
Semoga Allah memudahkan kita menjadi anak yang paling berbakti pada orang tua kita. Wallahu waliyyut taufiq.
—-
Riyadh-KSA, 9 Shafar 1434 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel RemajaIslam.com
1- Menaati perintahnya selama bukan dalam perkara yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.
لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةٍ ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ
“Tidak ada ketaatan dalam melakukan maksiat. Sesungguhnya ketaatan hanya dalam melakukan kebajikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tanda tidak bakti pada ibu adalah ketika disuruh sama ibu, malah ngomel dan bantah. Ini namanya durhaka.
2- Mendahulukan perintahnya dari perkara yang hanya dianjurkan (sunnah). Jika Anda sedang shalat sunnah, sedangkan ibu Anda memanggil, maka tetap panggillan Ibu Anda lebih dahulu dipenuhi. Karena memenuhi panggilan ibu itu wajib, sedangkan shalat sunnah berada di bawah wajib.
3- Menghiasi diri dengan akhlak yang mulia di hadapannya, di antaranya adalah dengan tidak mengeraskan suara di hadapan mereka, bukan dengan sering cemberut ketika disuruh, bukan malah bantah ketika sedang nonton TV padahal Ibu sangat mohon bantuannya.
Dari Thaisalah bin Mayyas, ia berkata bahwa Ibnu Umar pernah bertanya, “Apakah engkau takut masuk neraka dan ingin masuk surga?” ”Ya, saya ingin”, jawabku. Beliau bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” “Saya masih memiliki seorang ibu”, jawabku. Beliau berkata, “Demi Allah, sekiranya engkau berlemah lebut dalam bertutur kepadanya dan memasakkan makanan baginya, sungguh engkau akan masuk surga selama engkau menjauhi dosa-dosa besar.” (Adabul Mufrod no. 8, shahih)
Semoga Allah memudahkan kita menjadi anak yang paling berbakti pada orang tua kita. Wallahu waliyyut taufiq.
—-
Riyadh-KSA, 9 Shafar 1434 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel RemajaIslam.com
Kamis, 21 Februari 2013
Senin, 11 Februari 2013
Apa Yang Kau Panggil Cinta?
Apa yang kau panggil cinta
Bukanlah seindah mimpi yang sempurna
Karena ia laksana bayangan ilusi
seumpama mainan tidur yang berkepanjangan…
Apa yang kau panggil cinta
Bukanlah satu kebahagiaan yang kau harapkan
Karena ia laksana patung permainan…
Apa yang kau panggil cinta
Bukanlah permata yang seutuh berlian
Ia laksana kaca nan terang
juga menyilaukan pandanganmu di tengah sahara…
Apa yang kau panggil cinta
Barangkali seperti bunga di mata
tetapi di hati seperti duri yang berbisa…
Apa yang kau panggil cinta
adalah keindahan yang berseni
Namun berliuk-liuk garisannya
laksana jalan pajang yang menakutkan…
Dan ketahuilah, apa yang kau panggil cinta
Akan menjadi indah apabila Allah yang menjadi dasarnya
serta syariatNya yang menjadi pagar pembatasnya….
#radiomuslim
Kamis, 07 Februari 2013
Untukmu Yang Selalu Kunanti…
Jika lelah yang kurasa sekarang, aku yakin kau juga
merasakannya. Lelah menantimu. Lelah menanti janji Allah untuk segera
mempertemukan kita dalam kesempatan untuk menggenapkan separoh dari
agama ini. Lelah… dan teramat lelah….!!!!
Itulah yang sekarang kurasakan. Lelah untuk tetap
menjaga hati dan iman ini. Lelah untuk istiqomah menanti hingga janji
Allah tiba. Lelah untuk tetap tersenyum dalam menghadapi setiap
pertanyaan..
“Kapan menikah…..?”
Di tengah kelelahan itu, izinkan aku sekedar
melukiskan kekeluan hati yang sulit terucap dengan lisan. Dan izinkan
pula aku sedikit mengutip firman Allah Ta’ala, sebagai kewajiban kita
untuk saling mengingatkan dalam hal kebaikan dan kesabaran…
“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki
yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji
(pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang
baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik
(pula). Mereka itu bersih dari apa yang yang dituduhkan orang. Mereka
memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (syurga) (QS An-nur : 26)”
Huuf….!!!!
Lega rasanya, bisa sedikit menyampaikan ini. Meski
jika boleh sedikit jujur, kutulis petikan firman Allah itu hanya sekedar
menghibur hatiku yang teramat lelah. Menghibur hatiku yang terkadang
perih melihat kebahagiaan temanku atau bahkan yang usianya di bawahku
telah mendapat izin Allah untuk melangsungkan pernikahan. Hatiku yang
terkadang iri melihat temanku melahirkan anaknya dan terasa lengkap
sudah dirinya diciptakan sebagai seorang perempuan. Yang telah
berkesempatan untuk menjadi seorang ibu.
Lelah…!!! Dan teramat lelah….!!!!
Untuk sebuah penantian yang aku sendiri tidak tahu
kapan berakhirnya. Selaksa doa yang terus terlantun seakan menjadi arang
untuk mengobarkan asa. Sebuah harapan untuk segera menemui hari yang
paling membahagiakan. Ya… Hari pernikahan. Hari dimana kita bisa
menunpahkan segala rasa cinta yang ada dengan halal dan penuh ridha
Allah.
Sekilas, hatiku tersenyum kecil saat membayangkan hal
itu. Tapi, senyum itu terpaksa harus ku tepis karena kenyataan saat ini
masih jauh dengan sebuah harapan yang ada. Sebuah kenyataan ternyata
kau belum ada di depanku. Belum datang untukku. Meski aku tahu, kau
telah dipersiapkan Allah untukku.
Aku tidak tahu kenapa sampai sekarang Allah belum
mempertemukan aku denganmu. Padahal, doa dan usaha tak pernah berhenti
menghiasi langkahku. Usaha untuk menyempurnakan ikhtiar dan doa untuk
menggenapkan tawakal. Semuanya telah kulakukan.
Yah… tapi kembali lagi mau tidak mau aku harus
berkompromi dengan semua ketetapan Allah. Meski aku telah meminta dengan
sepenuh harap, Allah tidak akan pernah memberikan apa yang aku
inginkan. Tapi Allah hanya memberikan apa yang aku butuhkan. Meski
berulang kali hati kecilku mengatakan bahwa aku telah siap untuk
menikah, Tapi, hanya Allah yang jauh lebih tau tentang kesiapan diriku
daripada diriku sendiri.
Telah berulang kali datang di hatiku orang yang
kusangka dia adalah dirimu. Mencoba memasuki hati dan mencoba mengambil
tempat yang kuperuntukkan untukmu. Tapi, berulang kali juga mereka harus
keluar dan mengaku kalah karena berbagai sebab. Dan sekarang, ternyata
aku masih menunggumu. Menunggu kedatangan seseorang yang aku sendiri
belum tahu siapa dirimu.
Lelah… dan teramat letih…!!!
Jika aku mengucapkan satu kata. “MENUNGGU”
Penantian yang aku sendiri juga belum tahu kapan
berakhirnya. Sedangkan di sekitarku, telah banyak pemandangan indah yang
kulihat. Ibu-ibu muda yang usianya di bawah umurku telah sempurna
menjadi seorang perempuan dengan melahirkan buah hati mereka yang
lucu-lucu. Kembali lagi hatiku harus menjerit dalam Tanya
“Kapan tiba waktunya untukku…..?”
Menjalani hidup sebagai seorang istri, sebagai
seorang ibu rumah tangga dan menjalani fitrah seorang perempuan sebagai
seorang “IBU” bagi buah hatiku.
Selaksa doa dalam sujud harap tak pernah lekang di
tiap sepertiga malam terakhirku. Mencoba mengadu pada tiap doa yang
terlantun. Mencoba mengiba dalam tiap tangis yang terus membasahi
sajadah. Dan Mencoba bertanya dalam heningnya istikharah.
“Dimana dia ya Allah….???? Seorang laki-laki yang
telah kau janjikan untukku. Seorang laki-laki sebagai penyempurna
agamaku, penjaga ketaatanku sekaligus penggenap langkah
dakwahku….??????”
Lelah… dan teramat letih…!!!
Jika hati ini mencoba mengeja setiap rencana Allah.
Tapi satu keyakinan yang akan terus membuatku tersenyum di tengah hati
yang semakin lelah. Janji Allah mungkin tidak datang dengan “SEGERA”.
Tapi akan selalu datang dengan “PASTI”. Seperti apa yang telah Allah
janjikan dalam surat An-Nur : 26. Sekarang, aku memang tidak tahu siapa
dirimu dan dimana keberadaanmu. Tapi aku yakin, kau akan dipertemukan
Allah denganku saat masing-masing kita telah baik di mata Allah.
Jika aku menginginkan kau seorang yang baik dimata
Allah, maka izinkanlah aku untuk selalu memperbaiki diriku dengan
kebaikan sesuai ketentuan Allah.
Jika aku menginginkan kau memberikan cintamu hanya
untukku, maka izinkan mulai sekarang aku menjaga hati dan cinta ini
hanya untukmu.
Jika sekarang aku menginginkanmu menjaga akhlak dan
pandanganmu untukku, maka, izinkanlah mulai sekarang aku menjaga akhlak
dan pandanganku hanya untukmu.
Sehingga, ketika telah tiba waktunya bagi Allah untuk
mempertemukan kita, indahnya cinta yang terbingkai dengan syurga
pernikahan akan menjadi penggenap separoh dari agama ini.
Jika aku boleh jujur, penantian panjang ini layaknya
malam yang semakin gelap dan pekat. Hanya cahaya iman dan sabar yang
akan menjadi penerang. Tapi aku yakin, malam yang semakin gelap dan
pekat itu, tidak akan berlangsung selamanya. Karena semakin waktu
berangkat jauh membawa gelapnya malam, semakin dekat pula waktu menuju
pagi dengan sambutan mentari yang cerah.
Ya… di saat pagi itulah Allah akan mempertemukan kita
sesuai janji-Nya. Pagi yang cerah dengan sapaan mentari yang ramah.
Bersama kidung cinta yang akan terus terlantun membawa nyanyian syurga
yang Allah turunkan untuk kita. Gerbang pernikahan yang indah dengan
hiasan bunga ridha dan restu dari Allah.
Insya Allah akhi…
Waktu itu pasti akan datang bersama izin dari Allah.
Entah kapan, aku sendiri juga belum tahu. Biarkan
Allah yang merenda ini dengan indah. Antara harapan dan kenyataan, ada
jarak dan waktu. Jarak itu bisa satu centimeter, bisa juga satu
kilometer. Atau bahkan lebih. Waktu itu bisa satu hari atau bisa juga
satu tahun. Atau bahkan lebih. Dan di dalam jarak dan waktu itulah, kita
isi dengan kesabaran dan doa. Sabar bukan berarti diam. Sabar bukan
berarti pasiv. Sabar bukan berarti hanya duduk menunggu. Tapi sabar
adalah ekspresi usaha tanpa henti. Ayunan langkah kaki untuk terus
berikhtiar meraih apa yang Allah janjikan. Jodoh memang mutlak kekuasaan
Allah. Jodoh memang ada di tangan Allah. Tapi, kalau kita tidak
berusaha menjemputnya, akan terus di tangan Allah. Tidak akan pernah
sampai di tangan kita. Biarkan aku mencoba menjemputmu dengan
memperbaiki diri. Biarkan aku menantimu dengan memperbaiki iman. Biarkan
aku menunggumu dengan terus melangkahkan kaki semampuku dalam usaha dan
ikhtiar.
Akhi….
Di tengah lelahnya hati ini, izinkan aku tetap
menunggu dengan iman yang tak pernah surut. Meski kadang godaan rasa
putus asa terus menghinggap di hati. Aku hanya perlu menyandarkan cinta
dan harapan pada Allah. Karena, menyandarkan harapan pada manusia hanya
akan menemui kekecewaan. Biarkan penantian yang aku sendiri belum tahu
kapan berakhirnya ini menjadi ladang ibadah yang disediakan Allah
untukku. Dan orang-orang yang sedang menanti sepertiku.
Terus perbaiki diri akhi….
Aku masih setia menantimu.
______
Yaya Hikmatul Qalam
* mewakili perasaan lelahku...
Langganan:
Postingan (Atom)




