Minggu, 30 Juni 2013

Tentang Ikhlas ~

Tampil Apa Adanya
 
[90] Abu Utsman al-Maghribi rahimahullah berkata, “Ikhlas adalah melupakan pandangan orang dengan senantiasa memperhatikan pandangan Allah. Barangsiapa yang menampilkan dirinya berhias dengan sesuatu yang tidak dimilikinya niscaya akan jatuh kedudukannya di mata Allah.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 86)

Merasa Diri Belum Ikhlas

[91] as-Susi rahimahullah berkata, “Ikhlas itu adalah dengan tidak memandang diri telah ikhlas. Barangsiapa yang mempersaksikan kepada orang lain bahwa dirinya benar-benar telah ikhlas itu artinya keikhlasannya masih belum sempurna.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 86)

Berusaha Menyembunyikan Kebaikan

[92] Sufyan bin Uyainah berkata: Abu Hazim rahimahullah berkata, “Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu lebih daripada kesungguhanmu dalam menyembunyikan kejelekan-kejelekanmu.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 231).

[93] al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, “Ilmu dan amal terbaik adalah yang tersembunyi dari pandangan manusia.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 231).

[94] Dari Yazid bin Abdullah bin asy-Syikhkhir, dia menceritakan bahwa ada seorang lelaki yang bertanya kepada Tamim ad-Dari, “Bagaimana sholat malammu?”. Maka beliau pun marah sekali, beliau berkata, “Demi Allah, sungguh satu raka’at yang aku kerjakan di tengah malam dalam keadaan rahasia itu lebih aku sukai daripada aku sholat semalam suntuk kemudian hal itu aku ceritakan kepada orang-orang.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 234)

[95] Ibrahim at-Taimi rahimahullah berkata, “Orang yang ikhlas adalah yang berusaha menyembunyikan kebaikan-kebaikannya sebagaimana dia suka menyembunyikan kejelekan-kejelakannya.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 252)

[96] Muhammad bin Wasi’ rahimahullah berkata, “Sungguh aku telah bertemu dengan orang-orang, yang mana seorang lelaki di antara mereka kepalanya berada satu bantal dengan kepala istrinya dan basahlah apa yang berada di bawah pipinya karena tangisannya akan tetapi istrinya tidak menyadari hal itu. Dan sungguh aku telah bertemu dengan orang-orang yang salah seorang di antara mereka berdiri di shaf [sholat] hingga air matanya mengaliri pipinya sedangkan orang di sampingnya tidak mengetahui hal itu.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 249)

Hakikat Ikhlas

[97] Sahl bin Abdullah at-Tustari rahimahullah mengatakan, “Orang-orang yang cerdas memandang tentang hakikat ikhlas ternyata mereka tidak menemukan kesimpulan kecuali hal ini; yaitu hendaklah gerakan dan diam yang dilakukan, yang tersembunyi maupun yang tampak, semuanya dipersembahkan untuk Allah ta’ala semata. Tidak dicampuri apa pun; apakah itu kepentingan pribadi, hawa nafsu, maupun perkara dunia.” (lihat Adab al-’Alim wa al-Muta’allim, hal. 7-8)

[98] Abul Qasim al-Qusyairi rahimahullah mengatakan, “Ikhlas adalah menunggalkan al-Haq (Allah) dalam hal niat melakukan ketaatan, yaitu dia berniat dengan ketaatannya dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah ta’ala. Bukan karena ambisi-ambisi lain, semisal mencari kedudukan di hadapan manusia, mengejar pujian orang-orang, gandrung terhadap sanjungan, atau tujuan apapun selain mendekatkan diri kepada Allah ta’ala.” (lihat Adab al-’Alim wa al-Muta’allim, hal. 8)

[99] al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah mengatakan, “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’ sedangkan beramal untuk dipersembahkan kepada manusia merupakan kemusyrikan. Adapun ikhlas itu adalah tatkala Allah menyelamatkan dirimu dari keduanya.” (lihat Adab al-’Alim wa al-Muta’allim, hal. 8)


via - Mutiara Hikmah Ulama Salaf.

Selasa, 07 Mei 2013

# Istilah2 dalam bhs Arab #


شكرا
Syukron ; terima kasih

عفوا
Afwan = maaf (dijadikan pula sebagai jawaban dari syukron)

تفضل
Tafadhdhol = silahkan (untuk laki2)

تفضلي
Tafadhdholiy = silahkan (untuk perempuan)

ممتاز
Mumtaz : Hebat, Nilai sempurna, bagus

نعم
Na’am : iya

لا أدري
La adri = tidak tahu

زادنا الله علما وحرصا
Zadanallah ilman wa hirsha = smoga ALLAH manambah kita ilmu & semangat

يسر الله / سهل الله لنا الخير حيثما كنا
Yassarallah/ sahhalallah lanal khaira haitsuma kunna = semoga ALLAH mudahkan kita dalam kebaikan dimanapun berada

اللهم اغفر لنا والمسلمين
Allahummaghfir lana wal muslimin = ya ALLAH ampunilah kami & kaum muslimin

اتق الله حيثما كنت
Ittaqillaah haitsumma kunta = Bertaqwalah kamu kepada Allah dimanapun kamu berada

الله مستعان
Allahul musta’an = hanya ALLAH-lah tempat kita minta tolong

بارك الله فيك / الله يبارك فيك
Barakallah fikum / Allahu yubarikfik = semoga ALLAH memberi kalian berkah

وإياك
Wa iyyak = sama-sama

وأنت كذلك
Wa anta kadzalik = begitu jg antum

أي الخدمة
Ayyul khidmah = ada yg bisa dibantu ?

نسأل الله السلامة والعافية
Nas-alullaha asSalamah wal afiah = kita memohon kepada ALLAH keselamatan dan kebaikan

جزاكم الله خيرا
Jazakumullah khayran = semoga ALLAH membalas kalian dengan lebih baik

جزاك الله خيرا
Jazaakallahu khayran = semoga ALLAH membalasmu (laki2) dengan lebih baik

جزاك الله خيرا
Jazaakillahu khayran = semoga ALLAH memmbalasmu (perempuan) dengan lebih baik

اللهم اجرني في مسيبتي واخلف لي خيرا منها
Allahumma ajurny fi mushibaty wakhlufly khairan minha = ya ALLAH berilah pahala pada musibahku dan gantikanlah dg yg lebih baik darinya.

رحمكم الله
Rahimakumullah = smoga ALLAH merahmati kalian

حفطنا الله
Hafizhanallah = semoga ALLAH menjaga kita

هدانا الله
Hadaanallah = semoga ALLAH memberikan kita petunjuk/ hidayah.

الله يهديك
Allahu yahdik = semoga Allah memberimu petunjuk/ hidayah

Sumber: Memurnikan Aqidah, Menebarkan Sunnah (Tegar Di Atas Sunnah)

Senin, 15 April 2013

10 Karakter Muslimah yang Harus Diusahakan :)

1. Salimul Aqidah (Aqidah yang lurus)

Dengan aqidah yang bersih, kita akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah SWT. Dengan ikatan yang kuat itu kita tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah,  kita akan menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah. Jadi ga akan ke dukun, ga percaya zodiak dan takhayul, dll, yaaa.. ;)


2. Shahihul Ibadah (Ibadah dengan Benar) 
   “Shalatlah kamu sebagaimana melihat aku shalat”. Dari ungkapan Rasulullah ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan mahdhoh (sholat, puasa, zakat, dll) haruslah merujuk kepada sunnah Rasul SAW, yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan (bid’ah). Sudah benarkah ibadah kita? ;)


3. Matiinul Khuluq (Akhlak yang Kokoh)
 
Akhlak yang terpuji tuh penting, maka Rasulullah SAW diutus untuk memperbaiki akhlak dan Beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al Qur’an. Allah berfirman yang artinya:“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung” (QS. 68:4).


4. Qowiyyul Jismi (Jasmani yang Kuat) 
Kekuatan jasmani berarti  kita memiliki daya tahan tubuh  yang baik sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat dan kuat. Apalagi berjihad di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.

“Mukmin yang kuat lebih aku cintai daripada mukmin yang lemah (HR. Muslim)


5. Mutsaqqoful Fikri (intelek dalam berfikir) 
Makin banyak ilmu, makin banyak yang bisa kita lakukan. Bayangkan, ketika zaman sekarang kita (muslim/ah) tidak pintar, pasti kita yang akan dipinterin (oleh orang2 yang ga suka ama Islam)
Samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (QS 39:9)


6. Mu(jahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu) 
    

Mujahadatul linafsihi merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan. Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam)” (HR. Hakim) 

7. Haritsun Ala Waqtihi (pandai menjaga waktu)  

  Allah SWT memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: “Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu”. kekekekeeekk…
    Ingat lima perkara : hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk, dan kaya sebelum miskin.

8. Munazhzhamun fi Syu’unihi (teratur dalam suatu urusan)     
  Apapun yang dikerjakan, profesionalisme selalu diperhatikan. Bersungguh-sungguh, bersemangat, berkorban, berkelanjutan, dan berbasis ilmu pengetahuan merupakan hal-hal yang mesti mendapat perhatian serius dalam penunaian tugas2.

9. Qodirun Alal Kasbi (memiliki kemampuan usaha mandiri)
   

Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik. Keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat riezeki dari Allah SWT. Rezeki yang telah Allah sediakan harus diambil dan untuk mengambilnya diperlukan skill atau ketrampilan.
    Lagipula, kita emang mesti punya duit. Kalo ga punya duit, gimana bisa kita sedekah, zakat, atau pergi haji? 

10. Nafi’un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain)
      Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun kita berada, orang dicsekitar kita merasakan keberadaan kita. Jangan sampai keberadaan kita tidak menggenapkan dan ketiadaan  kita tidak mengganjilkan.
Yuk, persiapkan diri kita dan berupaya maksimal untuk bisa bermanfaat dan mengambil peran yang baik dalam lingkungan. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Qudhy dari Jabir).


(source : orangeumar)

Kamis, 11 April 2013

Apa Pekerjaan Yang Terbaik?


Oleh : Manakah pekerjaan terbaik bagi seorang muslim? Apakah berdagang lebih utama dari lainnya? Ataukah pekerjaan terbaik tergantung dari keadaan tiap individu?

Ada yang pernah bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَىُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ قَالَ  عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ

“Wahai Rasulullah, mata pencaharian (kasb) apakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur (diberkahi).” (HR. Ahmad 4: 141, hasan lighoirihi)

Pekerjaan yang Thoyyib

Kasb yang dimaksud dalam hadits di atas adalah usaha atau pekerjaan mencari rizki. Asy Syaibani mengatakan bahwa kasb adalah mencari harta dengan menempuh sebab yang halal. Sedangkan kasb thoyyib, maksudnya adalah usaha yang berkah atau halal. Sehingga pertanyaan dalam hadits di atas dimaksudkan ‘manakah pekerjaan yang paling diberkahi?

Kita dapat mengambil pelajaran penting bahwa para sahabat tidak bertanya manakah pekerjaan yang paling banyak penghasilannya. Namun yang mereka tanya adalah manakah yang paling thoyyib (diberkahi). Sehingga dari sini kita dapat tahu bahwa tujuan dalam mencari rizki adalah mencari yang paling berkah, bukan mencari manakah yang menghasilkan paling banyak. Karena penghasilan yang banyak belum tentu barokah. Demikian penjelasan berharga dari Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al Fauzan dalam Minhatul ‘Allam, 6: 10.

Minggu, 24 Februari 2013

Tanda Bakti pada Orang Tua

Setiap anak ketika pasti ingin jadi anak yang patuh dan taat pada orang tua. Namun kadang itu hanya di lisan saja tanpa direalisasikan. Bagaimana bentuk bakti pada Orang Tua? Beginilah Islam mengajarkannya.

1- Menaati perintahnya selama bukan dalam perkara yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.

 لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةٍ ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ

Tidak ada ketaatan dalam melakukan maksiat. Sesungguhnya ketaatan hanya dalam melakukan kebajikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tanda tidak bakti pada ibu adalah ketika disuruh sama ibu, malah ngomel dan bantah. Ini namanya durhaka.

2- Mendahulukan perintahnya dari perkara yang hanya dianjurkan (sunnah). Jika Anda sedang shalat sunnah, sedangkan ibu Anda memanggil, maka tetap panggillan Ibu Anda lebih dahulu dipenuhi. Karena memenuhi panggilan ibu itu wajib, sedangkan shalat sunnah berada di bawah wajib.

3- Menghiasi diri dengan akhlak yang mulia di hadapannya, di antaranya adalah dengan tidak mengeraskan suara di hadapan mereka, bukan dengan sering cemberut ketika disuruh, bukan malah bantah ketika sedang nonton TV padahal Ibu sangat mohon bantuannya.

Dari Thaisalah bin Mayyas, ia berkata bahwa Ibnu Umar pernah bertanya, “Apakah engkau takut masuk neraka dan ingin masuk surga?” ”Ya, saya ingin”, jawabku. Beliau bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” “Saya masih memiliki seorang ibu”, jawabku. Beliau berkata, “Demi Allah, sekiranya engkau berlemah lebut dalam bertutur kepadanya dan memasakkan makanan baginya, sungguh engkau akan masuk surga selama engkau menjauhi dosa-dosa besar.” (Adabul Mufrod no. 8, shahih)

Semoga Allah memudahkan kita menjadi anak yang paling berbakti pada orang tua kita. Wallahu waliyyut taufiq.

—-
Riyadh-KSA, 9 Shafar 1434 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel RemajaIslam.com

Kamis, 21 Februari 2013

Puding Pasta Durian


5 PIREKS

FLA

  • 6 GELAS SANTAN KENTAL
  • 2 GELAS GULA PASIR
  • 6 BUTIR KUNING TELUR
  • 4 SDM HERCULES
  • 1/2 KALENG SUSU KENTAL MANIS PUTIH

PUDING
  • 6 GELAS SANTAN ENCER
  • 2 GELAS GULA PASIR
  • 2 GELAS AGAR-AGAR HIJAU

TOPING
  • 1 1/2 GELAS AIR PUTIH
  • 3/4 GULA PASIR
  • 1 BUNGKUS AGAR-AGAR PUTIH
  • 6 BUTIR TELUR DIKAKUKAN

Senin, 11 Februari 2013

Apa Yang Kau Panggil Cinta?




Apa yang kau panggil cinta

Bukanlah seindah mimpi yang sempurna

Karena ia laksana bayangan ilusi

seumpama mainan tidur yang berkepanjangan…

Apa yang kau panggil cinta 

Bukanlah satu kebahagiaan yang kau harapkan

Karena ia laksana patung permainan…

Apa yang kau panggil cinta

Bukanlah permata yang seutuh berlian 

Ia laksana kaca nan terang

juga menyilaukan pandanganmu di tengah sahara…

Apa yang kau panggil cinta

Barangkali seperti bunga di mata 

tetapi di hati seperti duri yang berbisa…

Apa yang kau panggil cinta 

adalah keindahan yang berseni

Namun berliuk-liuk garisannya

laksana jalan pajang yang menakutkan…

Dan ketahuilah, apa yang kau panggil cinta 

Akan menjadi indah apabila Allah yang menjadi dasarnya

serta syariatNya yang menjadi pagar pembatasnya….


#radiomuslim