Tampil Apa Adanya
[90] Abu Utsman al-Maghribi rahimahullah berkata, “Ikhlas
adalah melupakan pandangan orang dengan senantiasa memperhatikan
pandangan Allah. Barangsiapa yang menampilkan dirinya berhias dengan
sesuatu yang tidak dimilikinya niscaya akan jatuh kedudukannya di mata
Allah.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 86)
Merasa Diri Belum Ikhlas
[91] as-Susi rahimahullah berkata, “Ikhlas itu adalah dengan
tidak memandang diri telah ikhlas. Barangsiapa yang mempersaksikan
kepada orang lain bahwa dirinya benar-benar telah ikhlas itu artinya
keikhlasannya masih belum sempurna.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 86)
Berusaha Menyembunyikan Kebaikan
[92] Sufyan bin Uyainah berkata: Abu Hazim rahimahullah berkata, “Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu lebih daripada kesungguhanmu dalam menyembunyikan kejelekan-kejelekanmu.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 231).
[93] al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, “Ilmu dan amal terbaik adalah yang tersembunyi dari pandangan manusia.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 231).
[94] Dari Yazid bin Abdullah bin asy-Syikhkhir, dia menceritakan
bahwa ada seorang lelaki yang bertanya kepada Tamim ad-Dari, “Bagaimana
sholat malammu?”. Maka beliau pun marah sekali, beliau berkata, “Demi
Allah, sungguh satu raka’at yang aku kerjakan di tengah malam dalam
keadaan rahasia itu lebih aku sukai daripada aku sholat semalam suntuk
kemudian hal itu aku ceritakan kepada orang-orang.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 234)
[95] Ibrahim at-Taimi rahimahullah berkata, “Orang yang
ikhlas adalah yang berusaha menyembunyikan kebaikan-kebaikannya
sebagaimana dia suka menyembunyikan kejelekan-kejelakannya.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 252)
[96] Muhammad bin Wasi’ rahimahullah berkata, “Sungguh aku
telah bertemu dengan orang-orang, yang mana seorang lelaki di antara
mereka kepalanya berada satu bantal dengan kepala istrinya dan basahlah
apa yang berada di bawah pipinya karena tangisannya akan tetapi istrinya
tidak menyadari hal itu. Dan sungguh aku telah bertemu dengan
orang-orang yang salah seorang di antara mereka berdiri di shaf [sholat]
hingga air matanya mengaliri pipinya sedangkan orang di sampingnya
tidak mengetahui hal itu.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 249)
Hakikat Ikhlas
[97] Sahl bin Abdullah at-Tustari rahimahullah mengatakan,
“Orang-orang yang cerdas memandang tentang hakikat ikhlas ternyata
mereka tidak menemukan kesimpulan kecuali hal ini; yaitu hendaklah
gerakan dan diam yang dilakukan, yang tersembunyi maupun yang tampak,
semuanya dipersembahkan untuk Allah ta’ala semata. Tidak dicampuri apa pun; apakah itu kepentingan pribadi, hawa nafsu, maupun perkara dunia.” (lihat Adab al-’Alim wa al-Muta’allim, hal. 7-8)
[98] Abul Qasim al-Qusyairi rahimahullah mengatakan, “Ikhlas
adalah menunggalkan al-Haq (Allah) dalam hal niat melakukan ketaatan,
yaitu dia berniat dengan ketaatannya dalam rangka mendekatkan diri
kepada Allah ta’ala. Bukan karena ambisi-ambisi lain, semisal
mencari kedudukan di hadapan manusia, mengejar pujian orang-orang,
gandrung terhadap sanjungan, atau tujuan apapun selain mendekatkan diri
kepada Allah ta’ala.” (lihat Adab al-’Alim wa al-Muta’allim, hal. 8)
[99] al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah mengatakan,
“Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’ sedangkan beramal untuk
dipersembahkan kepada manusia merupakan kemusyrikan. Adapun ikhlas itu
adalah tatkala Allah menyelamatkan dirimu dari keduanya.” (lihat Adab al-’Alim wa al-Muta’allim, hal. 8)
via - Mutiara Hikmah Ulama Salaf.